Pages

Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC BOARDING SCHOOL INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC BOARDING SCHOOL INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2013

pesantren jamsaren (jawa tengah)

Bila Pondok Pesantren Jamsaren diklaim sebagai pondok pesantren tertua di Pulau Jawa, barangkali memang ada benarnya. Sebab, pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo ini sudah berdiri sekitar tahun 1750.

Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas), Kiai Hasan Gabudan dan lain sebagainya. Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Namun sayangnya, meskipun pernah disinggahi banyak ulama besar Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), Pondok Jamsaren hampir tak terlihat lagi kultur ke-Aswajaannya. Hal ini menurut penghulu kraton disebabkan karena pada perkembangannya jarang ada ulama, khususnya dari golongan ulama Aswaja, yang mau mendekat ke kraton, seperti yang dilakukan wali songo atau ulama kraton zaman dulu.

“Ada semacam terputusnya rantai mata sejarah pada pondok ini,” kata Tafsir Anom, KRT Muh. Muhtarom kepada NU Online, Sabtu (9/2) lalu.

Pondok Jamsaren juga pernah mengalami masa vakum. Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.

Setelah sekitar 50 tahun kosong, seorang kiai alim dari Klaten yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, Kiai H Idris membangun kembali surau, yang kemudian menjadi pesanren, tersebut. Bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Bersamaan itu pula Sunan Pakubuwono X mendirikan Madrasah,yang diberi nama Madrasah Mamba'ul 'Ulum Surakarta.

Materi yang diajarkan adalah kitab-kitab klasik (kitab kuning) berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon (bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab), seperti Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawwuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan (maju satu per satu), sebagian yang lain dengan cara wekton atau blandongan (cara berkelompok), masing-masing membawa kitab sendiri.

Para santri tidak hanya datang dari Solo sekitar, tetapi juga datang dari daerah lain di Pulau Jawa, di antaranya Tegal, Semarang, Banten, Jombang, dan Mojokerto. Pada 1908, mushala pondok pesantren diganti dengan bangunan masjid tembok dan berlangsung hingga sekarang. Pada 1913, sistem pengajian sorogan diganti dengan sistem kelas.

Mencetak Ulama dan Pemimpin Besar

Dalam perkembangannya, pada tahun 1923 M, KH. Idris wafat (dimakamkan di pajang Makam Haji) kemudian diganti oleh KH. Abu Amar (Kyai Jamsari/Kyai Ngabei projowijoto). Pada tahun 1965 KH.'Abu Umar wafat. Beliau digantikan oleh putranya, yang salah satunya di ganti oleh KH. Ali Darokah sebagai ketua.

Pondok jamaren mulai thun 1965-1997, secara langsung dipimpin oleh KH. Ali Darokah yang dibantu oleh pengurus pondok. dimana struktur pondok terdiri dari lurah pondok, sekretaris. bendahara, wali santri pondok, staf pengajar, staf keamanan, dan staf dakwah. Pada tanggal 8 juli 1997 KH. Ali Darokah wafat. Sepeninggal beliau pengelolaan Pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok.

Pada periode ini selain pengajian sistem kelas dengan materi pelajaran agama juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestasi santri. Pada tahun pertama santri diwajibkan untuk menghapal juz 'Amma sebagai alah satu bekal santri dalam kehidupan bermasyarakat kelak.

Sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa oleh perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam mensikapi dunia pendidikan pada dekade ini. Pondok Pesantren Jamsaren menawarkan suatu alternatif sitem pendidikan dimana santri digembleng dengan pengetahuan pendidikan agama islam di pesantren, di sisi lain santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal dengan harapan agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa Ulama dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

Beberapa nama besar pernah lahir dari pondok ini, di antaranya Munawir Sazali (mantan Menteri Agama RI) dan Miftah Farid (Ketua MUI Jabar). Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Jamsaren kemudian bekerja sama dengan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. 

Senin, 27 Mei 2013

ponpes cidahu kh dimyati (jawa barat)

SEJARAH PONDOK PESANTREN CIDAHU BANTEN

Pondok pesantren Abuya Dimyathi (alm) Kampung Cidahu Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang - Banten sekarang di teruskan oleh anaknya Abuya Muhtadi Dimyati. Buya Dimyati merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965 beliau banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja'far Assegaf yang sekarang memimpin Majlis Nurul Musthofa di Jakarta dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang mendirikan pesantren.


PROFIL ABUYA DIMYATI

Pondoknya di Cidahu, Pandeglang, Banten tidak pernah sepi dari para tamu maupun pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan santri, pejabat hingga kiai. Abuya Dimyati dikenal sosok ulama yang mumpuni. Bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf. Abuya dikenalsebagai penganut tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah.

Lahir dari pasangan H.Amin dan Hj. Ruqayah sejak kecil memang sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya. Beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren seperti Pesantren Cadasari, Kadupeseng Pandeglang. Kemudian ke pesantren di Plamunan hingga Pleret Cirebon.

Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama,
beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat.. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Diantara gurunya adalah Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. 

Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. 


PENGASUH PONPES CIDAHU

1. KH. Muhammad Dimyati atau Abuya Dimyati (pendiri dan pengasuh): 1965 - 2003
2. KH. Muhtadi Dimyati tahun 2003 sampai sekarang

Senin, 20 Mei 2013

SIDOGIRI (JAWA TIMUR)


Sidogiri dibabat oleh seorang Sayyid dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban.
Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.
Sayyid Sulaiman membabat dan mendirikan pondok pesantren di Sidogiri dengan dibantu oleh Kiai Aminullah. Kiai Aminullah adalah santri sekaligus menantu Sayyid Sulaiman yang berasal dari Pulau Bawean.
Konon pembabatan Sidogiri dilakukan selama 40 hari. Saat itu Sidogiri masih berupa hutan belantara yang tak terjamah manusia dan dihuni oleh banyak makhluk halus. Sidogiri dipilih untuk dibabat dan dijadikan pondok pesantren karena diyakini tanahnya baik dan berbarakah.
Tahun Berdiri
Terdapat dua versi tentang tahun berdirinya Pondok Pesantren Sidogiri yaitu 1718 atau 1745. Dalam suatu catatan yang ditulis Panca Warga tahun 1963 disebutkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri didirikan tahun 1718. Catatan itu ditandatangani oleh Almaghfurlahum KH Noerhasan Nawawie, KH Cholil Nawawie, dan KA Sa’doellah Nawawie pada 29 Oktober 1963.
Dalam surat lain tahun 1971 yang ditandatangani oleh KA Sa’doellah Nawawie, tertulis bahwa tahun tersebut (1971) merupakan hari ulang tahun Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-226. Dari sini disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri berdiri pada tahun 1745. Dalam kenyataannya, versi terakhir inilah yang dijadikan patokan hari ulang tahun/ikhtibar Pondok Pesantren Sidogiri setiap akhir tahun pelajaran.
Panca Warga
Selama beberapa masa, pengelolaan Pondok Pesantren Sidogiri dipegang oleh kiai yang menjadi Pengasuh saja. Kemudian pada masa kepengasuhan KH Cholil Nawawie, adik beliau KH Hasani Nawawie mengusulkan agar dibentuk wadah permusyawaratan keluarga, yang dapat membantu tugas-tugas Pengasuh.
Setelah usul itu diterima dan disepakati, maka dibentuklah satu wadah yang diberi nama “Panca Warga”. Anggotanya adalah lima putra laki-laki KH Nawawie bin Noerhasan, yakni:
  1. KH Noerhasan Nawawie(wafat 1967)
  2. KH Cholil Nawawie(wafat 1978)
  3. KH Siradj Nawawie(wafat 1988)
  4. KA Sa’doellah Nawawie(wafat 1972)
  5. KH Hasani Nawawie(wafat 2001)
Dalam pernyataan bersamanya, kelima putra Kiai Nawawie ini merasa berkewajiban untuk melestarikan keberadaan Pondok Pesantren Sidogiri, dan merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan asas dan ideologi Pondok Pesantren Sidogiri.
Majelis Keluarga
Setelah tiga anggota Panca Warga wafat, KH Siradj Nawawie mempunyai gagasan untuk membentuk wadah baru. Maka dibentuklah organisasi pengganti yang diberi nama “Majelis Keluarga”, dengan anggota terdiri dari cucu-cucu laki-laki KH Nawawie bin Noerhasan.
Rais Majelis Keluarga pertama sekaligus Pengasuh adalah KH Abd Alim Abd Djalil. Sedangkan KH Siradj Nawawie dan KH Hasani Nawawie sebagai Penasehat.
Anggota Majelis Keluarga saat ini adalah:
  1. KH A Nawawi Abd Djalil (Rais/Pengasuh)
  2. d. Nawawy Sadoellah (Katib dan Anggota)
  3. KH Fuad Noerhasan(Anggota)
  4. KH Abdullah Syaukat Siradj(Anggota)
  5. KH Abd Karim Thoyib (Anggota)
  6. H Bahruddin Thoyyib (Anggota)
Urutan Pengasuh
Keberadaan Panca Warga dan selanjutnya Majelis Keluarga, sangat membantu terhadap Pengasuh dalam mengambil kebijakan-kebijakan penting dalam mengelola Pondok Pesantren Sidogiri sehingga berkembang semakin maju.
Tentang urutan Pengasuh, terdapat beberapa versi, sebab tidak tercatat pada masa lalu. Dalam catatan yang ditandatangani KH A Nawawi Abd Djalil pada 2007, urutan Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri sampai saat ini adalah:
  1. Sayyid Sulaiman (wafat 1766)
  2. KH Aminullah (wafat akhir 1700-an/awal 1800-an)
  3. KH Abu Dzarrin (wafat 1800-an)
  4. KH Mahalli (wafat 1800-an)
  5. KH Noerhasan bin Noerkhotim (wafat pertengahan 1800-an)
  6. KH Bahar bin Noerhasan (wafat awal 1920-an)
  7. KH Nawawie bin Noerhasan (wafat 1929)
  8. KH Abd Adzim bin Oerip (wafat 1959)
  9. KH Abd Djalil bin Fadlil (wafat 1947)
  10. KH Cholil Nawawie (wafat 1978)
  11. KH Abd Alim Abd Djalil (wafat 2005)
  12. KH A Nawawi Abd Djalil (2005-sekarang)

Selasa, 30 April 2013

PP API TEGAL REJO (JAWA TENGAH)


PONPES API Tegalrejo Magelang Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejodidirikan pada tanggal 15 September 1944 oleh KH. Chudlori yaitu seorangulama yang juga berasal dari desa Tegalrejo. Beliau adalah menantu dari KH.Dalhar pengasuh Pondok Pesantren ”Darus Salam” Watucongol MuntilanMagelang. KH. Chudlori mendirikan Pondok Pesantren di Tegalrejo padaawalnya tanpa memberikan nama sebagaimana layaknya Pondok Pesantrenyang lain. Baru setelah berkalai-kali beliau mendapatkan saran dan usulandari rekan seperjuangannya pada tahun 1947 di tetapkanlah nama AsramaPerguruan Islam (API). Nama ini ditentukannya sendiri yang tentunyamerupakan hasil dari sholat Istikharoh. Dengan lahirnya nama AsramaPerguruan Islam, beliau berharap agar para santrinya kelak di masyarakatmampu dan mau menjadi guruyang mengajarkan dan mengembangkansyariat-syariat Islam. Adapun yang melatar belakangi berdirinya Asrama Perguruan Islamadalah adanya semangat jihad ”I’Lai kalimatillah” yang mengkristal dalamjiwa sang pendiri itu sendiri. Dimana kondisi masyarakat Tegalrejo padawaktu itu masih banyak yang bergelumuran dengan perbuatan-perbuatansyirik dan anti pati dengan tata nilai sosial yang Islami. Respon MasyarakatTegalrejo atas didirikannya Pondok Pesantren Asrama Perguruan IslamTegalrejo pada waktu itu sangat memprihatinkan. Karena pada saat itumasyarakat masih kental dengan aliran kejawen. Tidak jarang merekamelakukan hal-hal yang negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatanta’lim wa-taa’llum (kegiatan belajar-mengajar). Sebagai seorang ulama yangtelah digembleng jiwanya bertahun-tahun di berbagai pesantren, KH.Chudlori tetap tegar dalam menghadapi dan menangani segala hambatan dantantangn yang datang. Berkat ketegaran dan keuletan KH. Chudlori dalam upayanyamewujudkan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam baik secara dhohirmaupun batin. Santri yang pada awal berdirinya hanya berjumlah delapan,tiga tahun kemudian sudah mencapai sekitar 100-an. Prestasi ini jika diidentikan dengan prestasi para pendiri pondok pesantren dalam era kemajuanini, barang kali biasa-biasa saja. Akan tetapi kalau melihat situasi sertakondisi serta sistem sosial yang berlaku pada saat itu sungguh prestasi KH.Chudlori merupakan prestasi yang lebih. Aksi negatif masyarakat seputar setelah tiga tahun API berdirisemakin mereda, bahkan diantara mereka yang semula anti pati ada yangberbalik total menjadi simpati dan ikhlas menjadi pendukung setia denganmengorbankan segala dana dan daya yang ada demi suksesnya perjuanganKH. Chudhori. Akan tetapi di luar dugaan dan perhitungan pada awal tahun1948 secara mendadak API diserbu Belanda tepat pada “Kles II”. Gedungatau fisik API yang sudah ada pada waktu itu diporak porandakan. Sejumlahkitab termasuk Kitab milik KH. Chudh
ori dibakar hangus, sementara santrisantritermasuk KH.Chudhori mengungsi kesuatu desa yang bernama Tejokecamatan Candimulyo. Kegiatan taklim wa-taalum nyaris terhenti.Pada penghujung tahun 1949 dimana situasi nampak amanKH.Chudhori kembali mengadakan kegiatan taklim wa-taalum kepadamasyarakat sekitar dan santripun mulai berdatangan terutama yang telahmendengar informasi bahwa situasi di Tegalrejo sudah normal kembali,sehingga KH.Chudhori mulai mendirikan kembali API lagi di temapt semula.Semenjak itulah API berkembang pesat seakan bebas dari hambatan,sehingga mulai tahun 1977 jumlah santri sudah mencapai sekitar 1500-an.Inilah puncak prestasi KH.Chudhori di dalam membawa API ke permukaanumat. Adalah merupakan suratan taqdir, dimana pada saat API sedangberkembang pesat dan melambung ke atas, KH.Chudhori dipanggilkerahmatullah (wafat), sehingga kegiatan taklim wataalum terpaksa diambilalih oleh putra sulungnya (KH. Abdurrohman Ch) dibantu oleh putraKeduanya (Bp. Achmad Muhammad Ch). Peristiwa yang mengaharukan initerjadi pada penghujung tahun 1977. Sudah menjadi hal yang wajar bahwa apabila disuatu pondokpesantren terjadi pergantian pengasuh, grafik jumlah santri menurun.Demikina juga API pada awal periode KH. Abdurrohman Ch jumlah santrimenurun drastis, sehingga pada tahun 1980 tinggal sekitar 760-an. Akantetapi nampak keuletan dan kegigihan KH.Chudhori telah diwariskan kepadaKH. Abdurrohman Ch, sehingga jumlah santri bias kembali meningkatsampai pada tahun 1922 menurut catatan sekretaris mencapai 2698 santri.Disini perlu dimaklumi oleh pembaca bahwa dari awal berdirinyahingga sekarang, API hanya menerima santri putra. Meskipun usulan dansaran dari berbagai kalangan saling berdatangan, namun belum pernahterpikirkan secara serius untuk mendirikan pondok pesantren putri hinggasekarang. Hal ini dapat dimaklumi karena faktor sarana dan prasarananyakurang mendukung terutama persediaan air bersih dan tanah lokasi.

Senin, 29 April 2013

GONTOR (JAWA TIMUR)


PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR PUTRI 1
Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1, terletak lebih kurang 100 km dari Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo atau 32 km sebelah barat kota Ngawi, tepatnya di desa Sambirejo Kec. Mantingan Kab. Ngawi. Aktifitas santriwati Gontor Putri yang mempunyai luas 6 ha. ini diorientasikan pada pembentukan sosok wanita muslimah, sholihah dan wanita serba teladan.
Sejarah Berdiri dan Perkembangannya.
Berdasarkan amanat TRIMURTI Pondok Modern Darussalam Gontor dan keputusan Sidang Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor dalam sidangnya yang ke-25 pada tanggal 7 – 8 Rabiul Awwal 1411, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor membuka Pesantren Putri mulai tahun ajaran 1410 – 1411 di desa Sambirejo, Mantingan, Ngawi , Jawa Timur. Pendirian pesantren ini juga didukung oleh adanya usulan para peserta silaturrahim Kyai Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dalam sidangnya pada bulan Muharram 1410, dan usulan Musyawarah Besar (MUBES) IKPM V di Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 16 – 17 Rabiul Tsani 1409 H.
Sebagai persiapan pembukaan pesantren putri tersebut diadakanlah beberapa kegiatan, antara lain: pembangunan gedung dan sarana yang diperlukan, dimulai tanggal 26 September 1988, penyelenggaraan pesantren kilat bekerja sama dengan Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM) bagi para siswa SLTP/SLTA, tanggal 24 – 31 Desember 1989, penetapan Direktur Kulliyatul Mu’allimat Al-Islamiyah(KMI), para pendidik dan pengajarnya, pengadaan Pesantren Ramadan Khusus Putri pada tahun 1410, dan terakhir adalah pembukaan pendaftaran santri baru pada bulan Syawal 1410.
Pada tanggal 6Dzulqo’dah 1410 / 31 Mei 1990, Pesantren Putri Pondok Modern Darussalam Gontor diresmikan pembukaannya oleh Menteri Agama Republik Indonesia, H. Munawir Syadzali, M.A. Dalam acara peresmian tersebut turut hadir Duta Besar Republik Arab Mesir, Atase Kebudayaan Mesir, Direktur LIPIA Jakarta, para undangan dari jajaran Departemen Agama R.I., pejabat pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat dan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor.
Tepat tanggal 10 Syawwal 1410, pendaftaran santriwati baru mulai dibuka. Pada awal berdirinya, Pesantren Putri Pondok Modern Darussalam Gontor menerima santriwati sebanyak 298 siswi dari 308 pedaftar, dan melibatkan 18 tenaga pengajar yang berfungsi sekaligus sebagai pengasuh dan pembimbing di dalam asrama pondok. Dalam perkembangan selanjutnya Pondok Pesantren Putri membutuhkan tambahan bangunan untuk asrama dan kelas sehingga mampu menerima jumlah santriwati yang lebih banyak pada tahun-tahun berikutnya.
Seluruh kebijaksanaan di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri mengacu kepada kebijaksanaan di Pondok Modern Darussalam Gontor secara penuh. Namun, itu tidak berarti menutup kemungkinan wujudnya kreatifitas dan inovasi yang muncul dari pengelolanya, terutama berkaitan dengan hal-hal yang bersifat teknis-praktis, bukan prinsip

Rabu, 17 April 2013

pesantren suka miskin (jawa barat)

Tidak sedikit ulama-ulama dan para Kyai yang sekarang mempunyai nama serta berpengaruh besar dalam masyarakat priangan khususnya dan masyarakat daerah Jawa Barat umumnya adalah hasil gemblengan dan godogan ilmu di Pondok Pesantren Sukamiskin
Banyak yang tidak menyangka pesantren sukamiskin telah berdiri cukup lama, dan banyak menghasilkan para kyai yang akhirnya mendirikan pesantren-pesantren di kota Bandung. Pondok Pesantren Sukamiskin berada di bawah pimpinan KH.R. Muhammad Alqo selama kurang lebih 29 tahun yakni dari tahun 1881 M sampai dengan 1910 M atau tahun 1300 H sampai dengan 1329 H. Dalam jangka waktu sekian ini beliau berhasil mendidik siswa-siswanya sehingga menjadi ulama besar, sebagai salah satu dari pada murid beliau adalah yang menjadi Pahlawan Nasional K.H. Zainal Musthofa almarhum. “Pesantren Ini Cukup Berperan Dalam Sejarah Perkembangan Pesantren Di Bandung,Selain Itu Juga Menghasilkan Lulusan Yang Juga Menjadi Pahlawan Nasional, Semisal KH. Zainal Mustofa Yang Gugur Sebagai Syuhada Ketika Melawan Penjajah” tutur Fiqi, putera dari pimpinan pesantren ini.
Dalam periode ke II, yaitu setelah K.H.R. Muhammad Alqo mengakhiri hayatnya, pimpinan Pondok Pesantren beralih pada puteranya 

K.H.R.A Dimyati beserta menantunya R.H.S. Anisa

h. Sebelum memimpin Pondok Pesantren pengalaman yang pernah ditempuh oleh K.H.R.A. Dimyati antara lain menuntut ilmu di Pesantren Kresek Garut yang kemudian bermukim di Mekah kurang lebih selama sembilan tahun, bersama –sama dengan K.H.A Sanusi almarhum (Pendiri dan Pembina Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi). Pada masa beliaulah (periode ke II tahun 1910 M sampai 1946 M atau 1329 H sampai 1365 H) harum dan cemerlangnya nama Pesantren Sukamiskin di daerah Jawa Barat.
Pada periode ke II ini sebagai pembantu pimpinan K.H.R. Muhammad Chalil, saudaranya sendiri. Kurang lebih 36 tahun lamanya, Pondok Pesantren Sukamiskin mengalami kejayaan dan pada masa ini pula siswa Pesantren Banyak orang yang datang dari berbagai pelosok daerah Jawa Barat. Baru setelah beliau wafat, Pondok Pesantren mengalami kepakuman selama kurang lebih dua tahun, karena terhambat dengan adanya peperangan menjelang kemerdekaan Indonesia. Setelah negara aman kembali dan kemerdekaan pun sudah diproklamirkan, maka K.H.R Haedar Dimyati, putera dari K.H.R.A. Dimyati mulai merintis kembali ke Pondok Pesantren yang semula sudah mengalami kepakuman itu dan berhasil memulihkan kembali seperti keadaan semula walaupun dalam jangka waktu yang agak lama. Pondok Pesantren Sukamiskin pada periode ke III ini, keadaannya cukup baik walaupun tidak sebaik periode ke II.
Periode ke III berakhir karena K.H.R. Haedar Dimyati mengakhiri hayatnya yaitu pada tahun 1967 dalam usia yang masih muda karena menderita penyakit yang mengakibatkan beliau pulang ke Rahmatullah. Sepeninggalnya, pimpinan Pondok Pesantren dipegang langsung oleh istrinya R.H. Siti Romlah Binti K.H.R. Muhammad Burhan (Pendiri dan Pimpinan Pesantren Cijaura Buah Batu Bandung), dan adiknya K.H.R. Sofwan, sementara putera K.H.R. Haedar, yaitu R. Abdul Aziz menuntut ilmu pengetahuannya di Pesantren Lirboyo Kediri yang dipimpin oleh K.H. Makhrush Ali. Tetapi sebelum selesai masa belajarnya R. Abdul Aziz, kakaknya (Puteri sulung K.H.R. Haedar) menikah dengan salah seorang siswa yang terkemuka  KH Imam Shonhaji  (juga siswa Pesantren Lirboyo Kediri, sebelum menimba ilmu di Pesantren Sukamiskin). Maka sejak itulah pimpinan Pondok Pesantren beralih kepadanya KH. Imam Sonhaji.(T2/Gilang Abimanyu)

Selasa, 09 April 2013

AL FALAH PLOSO (JAWA TIMUR)


PP AL Falah Ploso KediriLetak Pondok Pesantren Al Falah, di desa Ploso kecamatan Mojo, Al falah di kelilingi sungai brantas yang paling terbesar di kediri, bangunan Pondok Pesantren Al falah didirikan pada pertengahan tahun 1924 oleh Al Mukharom KH.Dzajuli Usman, permulaan beliau memiliki santri sekitar 10 orang masih menggunakan metode kono                   ( sorogan ) dengan memanfaatkan serambi masjid, dengan semakin banyaknya santri yang menimba ilmu dari beliau akhirnya di bangunlah gedung madrasah di awal tahun 1925.
Tanpa terasa santri yang belajar dengan KH. A.Djazuli membengkak menjadi 100 orang. Sebuah kenaiban pun, ia pakai sebagai tempat belajar. Cuma yang menjadi persoalan, seiring dengan semakin bertambahnya santri, fasilitas kenaiban tersebut tak bisa lama-lama ia pakai sebagai tempat belajar para santri. Aparat kantor kenaiban sering terganggu dengan aktifitas para santri. Untuk itu, pada tahun 1939 beliau segera membangun asrama santri yang sekarang bernama komplek A, sebuah asrama berlantai dua yang dilengkapi dengan musholla. Seirama dengan pergantian pemerintah penjajah dari Belanda ke Jepang, juga membawa suasana kelabu bagi pondok pesantren ini. Tentara Jepang sangat mencurigai kegiatan pondok pesaantren. Gerak gerik kiainya mereka awasi. Pengajian berlangsung dalam suasana tidak bebas. Kalaupun dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Kondisi demikian diperburuk dengan masuknya agresi Belanda kesatu pada tanggal 18 September 1948. Para santri yang memiliki semangat jihad, terlibat pertempuran untuk mengusir Belanda. Mereka bahu mebahu dengan TNI.
Operasional pondok pesantren tersebut kembali normal, setelah agresi Belanda berlalu. Setelah dua tahun vakum, kehadiran pondok pesantren bagai gayung bersambut. Kehadiran Pondok Pesantren Al-Falah mengisi kekosongan pendidikan yang hancur lebur karena pertempuran. Simpati warga Kediri mereka tunjukkan dengan mengirm anak-anaknya “nyantri” di pesantren KH. A. Djazuli.
Masyarakat Sekitar
Masyarakat sekitar pondok pesantren Al-Falah Ploso pada awalnya tergolong masyarakat abangan (jauh dari agama). Ketika awal berdiri, banyak masyarakatnya mencemooh pondok pesantren Al-Falah. Apalagi para pejabat dan bandar judi, yang setatus quonya mulai terganggu. Mereka sering menyebarkan isu-isu sesat terhadap pondok pesantren ini.
Fenomena semacam itu memang menjadi tantangan berat bagi pesantren yang menjadi pusat kegiatan simakan Al-Qur’an Mantab ini. Namun para pengurusnya tidak merasa gentar. Justru tantangan itu membulatkan tekad mereka untuk mengubah masyarakat abangan, menjadi masyarakat yang islami. Hasilnya seperti sekarang ini. Pesantren terus berkembang, dan kehidupan islami tercipta dengan sendiri di sekitar pondok pesantren.
Pondok pesantren yang letaknya ditepi sungai Barantas ini banyak mengambil keuntungan dari letak geografis tersebut. Sungai yang terkenal deras airnya dan terus mengalir sepanjang musim banyak memberikan kehidupan para santri serta para masyarakat sekitarnya. Dipinggir sungai inilah terletak desa Ploso, 15 km arah selatan dari Kediri. Potensi wilayah seperti ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Umumnya mereka memanfaatkan tanah yang subur ditepi sungai berantas untuk bercocok tanam.
Organisasi Kelembaganan
Ponpes Alfalah Ploso menganut sistem manajemen tradisional, dalam arti, kepemimpinan tunggal yang tersentral pada figur seorang kiai memegang otoritas yang tinggi dalam pengelolaan pesantren. Manajemen semacam itu terus berlangsung sampai pada saat sekarang saat pesantren ini diasuh oleh KH. Zainuddin Djazuli putra Kiai Djazuli. KH. Zainuddin dalam mengasuh pesantren yang sering digunakan kegiatan tingkat regional ini dibantu para adik-adiknya dan saudara-saudaranya, seperti KH. Nurul Huda (Gus Dah) yang mengasuh pondok pesantren putri, KH. Fuad Mun’im (Gus Fu’), KH. Munif, Bu Nyai Hj. Badriyah (Bu Bad) dan Gus Sabut putra almarhum Gus Mik (yang mengomandani Jama’ah Sima’an Al-Qur’an Mantab) dll.
Pondok pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagaimana kebanyakan pesantren di kota Kediri merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran model salafaiyah.
Program Pendidikan.
Program pendidikan dan pengajaran di ponpes Al-Falah, terdiri dari: Madrasah Ibtidaiyah (3 tahun), Madrasah Tsanawiyah (4 tahun) , dan Majelis Musyawarah Riyadlotut Tholabah (5 tahun).
Pada tingkat Ibtidaiyah materi yang banyak ditekankan adalah masalah akidah dan akhlak, sedangkan untuk tingkat Tsanawiyah ditekankan pada materi ilmu nahwu / sharaf dan ditambah ilmu fiqih, faroidl serta balaghah. Adapun Majelis Musyawarah merupakan kegiatan kajian kitab fiqih, yakni Fathul Qorib, selama satu tahun, Kitab Fathul Mu’in selama 1 tahun dan Fathul Wahab selama 3 tahun.
Selain program diatas masih ada kegiatan ekstra yang harus diikuti oleh semua santri, meliputi latihan berorganisasi, baca tahlil, muhafadhah, dibaiyah, kaligrafi dll. Juga ada kegiatan bahtsul masail. Program yang terakhir ini adalah sebagai wahana untuk melatih dan mencetak kader-kader syuriyah dan tem bahtsul bahsul masail. Dari majelis musyawarah ini telah terlahir kader-kader syuriyah NU di bidang bahtsul masail yang handal, diantaranya KH. Ardani Ahmad, KH. Arsyad, KH. Fanani. Mereka direkrut sebagai anggota lajnah bahtsul masail PWNU Jawa Timur. Dan masih banyak alumni yang lain yang berkcimpung di dunia organisasi NU dalam bidang yang lain.
Untuk menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar di pesantren yang mengasuh santri hampir 2000 ini hanya mengandalkan darim iuran santri atau SPP yang besarnya uang pangkal Rp. 10.000,- SPP Rp. 5.000,- dan iuran lainnya Rp. 10.000,-
Kaderisasi
Kalau sering didengar banyak pondok pesantren mati dan tidak santrinya akibat tidak adanya penerus, maka untuk pesantren yang bangunannya terkesan mewah ini insya’allah tidak akan terjadi, sebab sebagai pengasuh KH. Zainuddin Djazuli sudah menyiapkan putra-putranya dengan mengirimkan keberbagai pondok pesantren

Minggu, 31 Maret 2013

YANBU'UL QUR'AN (JAWA TENGAH)


Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an (PTYQ Dewasa) merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal di bawah naungan Yayasan Arwaniyah. Lembaga pendidikan yang berupa pesantren salaf ini menitiktekankan pada pengajaran Al Qur’an, yaitu meliputi tahsin (pembenaran bacaan), tahfidh (hafalan) dan qiro’ah sab’ah.
PTYQ dewasa atau yang biasa disebut PTYQ pusat, terletak kurang lebih 1,5 km dari pusat kota Kudus dan tidak jauh dari kompleks makam Sunan Kudus. Tepatnya berlokasi di Jl. KH.M Arwani, kelurahan kajeksan, Kudus.
Cikal bakal pesantren ini berawal dari pengajian yang diampu oleh KH. M. Arwani Amin yang telah dimulai sejak tahun 1942 di masjid Kenepan. Di Masjid ini beliau menerima para santri yang ingin belajar Al Qur’an baik bin nadhor maupun bil ghoib. Pengajian ini sempat terhenti pada rentang waktu antara tahun 1947 s.d 1957 disebabkan kesibukan beliau menuntut ilmu Thariqoh di pesantren Popongan, Solo. Setelah tahun 1957 pengajian itu pun kembali berlanjut. Pada th 1962, KH. M. Arwani menempati sebuah rumah baru di kelurahan Kajeksan, maka tempat pengajian pun turut dipindahkan tak jauh dari rumah beliau yang baru yaitu di masjid Busyro latif.
Seiring berjalannya waktu, santri yang belajar pada beliau semakin bertambah. Beliau pun berniat untuk mendirikan sebuah pesantren untuk menampung para santri agar mereka bisa lebih mudah dalam belajar. Akhirnya pada tahun 1973 didirikanlah sebuah pesantren Al Qur’an yang diberi nama “Yanbu’ul Qur’an”. Nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti mata air (sumber) Al Qur’an dipilih oleh KH. M. Arwani sendiri yang dipetik dari Al Qur’an Surat Al Isra’ ayat 90. Dengan nama tersebut diharapkan PTYQ bisa benar-benar menjadi sumber ilmu Al Qur’an.
Paling tidak ada empat tujuan pokok didirikannya PTYQ saat itu, pertama, menyediakan pemukiman bagi para santri yang ingin belajar dan menghafal Al Qur’an. Kedua, memudahkan kontrol kepada para santri dan memperlancar keberlangsungan proses belajar mengajar. Ketiga, menjaga kemurnian Al Qur’an. Dan keempat, turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pada tanggal 1 Oktober 1994 KH. M. Arwani berpulang ke rahmatullah. Sepeninggal beliau pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh putra-putra beliau, KH. M. Ulin Nuha Arwani dan KH. M. Ulil Albab Arwani, serta seorang murid kesayangan beliau yaitu KH. Muhammad Mansur Maskan (alm).
Saat ini terdapat kurang lebih 200 orang santri putra yang belajar di pesantren ini. Mereka datang dari berbagai kota dan dengan latar pendidikan yang berbeda-beda. Untuk menjadi santri di PTYQ dewasa, pendidikan minimal calon santri adalah lulusan SLTP/Mts atau yang sederajat. Mereka juga harus mengikuti tes masuk terlebih dahulu berupa tes lisan, tulisan dan praktek membaca Al Qur’an. Pendaftaran setiap tahunnya dibuka pada bulan Syawal (tanggal 11-25) dan kegiatan belajar mengajar bagi santri baru dimulai pada awal bulan Dzulqo’dah.
PTYQ juga membuka kesempatan bagi santri-santri dari pesantren lain untuk belajar Al Qur’an. Setiap bulan Ramadhan, PTYQ menerima santri puasanan dan mengadakan kelas makhroj bagi mereka selama tujuh belas hari yaitu tanggal 1 hingga 17 RamadhaN

Kamis, 14 Maret 2013

LIRBOYO (JAWA TIMUR)


Selain Memiliki kawasan wisata yang indah, makanan dan jajanan yang khas dan lezat, Kediri juga Mempunyai Banyak Pondok Pesantren, Salah satunya adalah Podok Pesantren Lirboyo.

Pondok Pesantren Lirboyo Didirikan oleh KH. ABDUL KARIM Yang lahir dengan nama Manab dan beliau di Magelang Jawa Tengah pada pertengahan abad XIX. Lirboyo adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Mojoroto Kotamadya Kediri Jawa Timur. Di desa inilah telah berdiri hunian atau pondokan para santri yang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Lirboyo. Berdiripada tahun 1910 M.

Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat sekali hubungannya dengan awal mula KH. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 M. setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah (Dlomroh), putri Kyai Sholeh Banjarmelati.


Perpindahan KH. Abdul Karim ke desa Lirboyo dilatarbelakangi atas dorongan dari mertuanya sendiri yang pada waktu itu menjadi seorang da’i, karena Kyai Sholeh berharap dengan menetapnya KH. Abdul Karim di Lirboyo agama Islam lebih syi’ar dimana-mana. Disamping itu, juga atas permohonan kepala desa Lirboyo kepada Kyai Sholeh untuk berkenan menempatkan salahsatu menantunya (Kyai Abdul Karim) di desa Lirboyo. Dengan hal ini diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tentram.

Betul juga, harapan kepala desa menjadi kenyataan. Konon ketika pertama kali kyai Abdul Karim menetap di Lirboyo, tanah tersebut diadzani, saat itu juga semalaman penduduk Lirboyo tidak bisa tidur karena perpindahan makhluk halus yang lari tunggang langgang

Tiga puluh lima hari setelah menempati tanah tersebut, beliau mendirikan surau mungil nan sederhana.

Demikian Sejarah singkat Berdirinya pondok pesantren lirboyo yang saya kutip dari www.lirboyo.com, hingga saat ini santri pondok lirboyo sudah mencapai ribuan oramg lebih...

Untuk Profil pondok, Tokoh Ulama, Kurikulum, Struktur Organisasi, Visi dan Misi dapat dilihat langsung di official site www.lirboyo.com