Pages

Tampilkan postingan dengan label BALAGHOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BALAGHOH. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2013

MENDAHULUKAN MUSNAD ATAU MENGAHIRKANNYA



   Musnad didahhulukan apabila ditemukan keadaan yang menghendaki untuk mendahulukannya, misalnya berupa 'amil, seperti:
قام على = Ali telah berdiri.
Atau berupa lafaz yang mempunyai hak untuk didahulukan dalam kalimat, seperti:
اين الظريق؟ = Di manakah jalannya?
Atau ketika dikehendaki suatu tujuan dari berbagai tujuan berikut ini:
1. Untuk mentakhsis (mengkhususkan) musnad ilaih. Contoh:
لله ملك السماوات والأرض
"Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi." (Al-Maidah: 17)
2. Untuk mengingatkan sejak pertama bahwa musnad memang khabar bukan na'at, seperti ucapan penyair:
a. له همم لامنتهى لكبارها وعمته الصغرى أجل من الدهر
"dia punya berbagai cita-cita,yang tak ada puncak bagi kebesarannya,
cita-citanya yang paling kecil, adalah lebih agung daripada masa"
b. له راحة لو أن معشارجودها على البر كان البر أندى من البحر

"Dia mempunyai telapak tangan,andaikata sepersepuluh kedermawanannya,
dicurahkan di daratan,tentulah darat lebih basah daripada lautan"
3. Meletakkan makna yang diakhirkan jika pada makna yang didahulukan terdapat hal yang ingin disebutkan, seperti mendahulukan musnad dalam firman Allah:
إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dam bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (Ali Imran: 190)
Dan seperti ucapan penyair:
خير الصنائع فى الانام صنيعة تنبوبها ملها على الاذلال

"Sebaik-baik pekerjaan diantara manusia adalah suatu pekerjaan, yang tiada mengenal kehinaan pada orang yang menekuninya."
4. Untuk mengharapkan kebaikan (tafa'ul), seperti ucapan anda kepada orang yang sedang sakit:
فى عافية انت = Mudah-mudahan anda diberi kesehatan.
Dan seperti ucapan penyair:
سعدت بغرة وجهك الايام وتزينت بلقاءك الاعوام

"Semoga bahagia hari-hari itu, oleh karena kemuliaan wajahmu,
dan semoga berhias tahun-tahun itu, dengan sebab pertemuan."
5. Untuk berfaedah mengkhususkan musnad ilaih atas musnad, seperti firman Allah:
لكم دينكم ولي دين
"Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (Al-Kafirun: 6)
Secara bahasa contoh di atas ditafsirkan dengan:
دينكم مقصورعليكم ودينى مقصورعلى , artinya agamamu khusus untukmu, dan agamaku khusus untukku.
6. Untuk menyatakan kesusahan, seperti ucapan penyair Al-Mutannabbi:
ومن نكد الدنيا على الحر ان يرى عدوا له ما من صداقتعه بد
"Dari kesusahan hidup di dunia, bagi orang yang merdeka,adalah melihat musuh yang seharusnya ia (sebagai) orang yang menjadi temannya"
7. Untuk tujuan kagum, mengagungkan, menyanjung, mencela, menaruh kasihan, atau mendo'akan, seperti:
a. لله درك = Bagus (kata pujian)
b. عظيم انت ياالله = Maha Agung Engkau ya Allah
c. نعم الزعيم سعد = Sebaik-baik pemimpin adalah Saad
d. بئس الرجل زيد = Seburuk-buruk lelaki adalah Khalil
e. فقير ابوك = Sungguh kasihan bapakmu
f. مبارك وصول لك بالسلامة = Sungguh diberkahi kedatanganmu dengan selamat
Dan juga dapat terjadi musnad untuk diakhirkan. Sebab, diakhirkan itu memang asalnya, sedangkan mendahulukan musnad ilaih memang lebih penting. Contoh:
الوطن عزيز= Tanah air itu mulia
Dari segi makna tunggal dan tidaknya, musnad terbagi menjadi dua macam, yaitu: Mufrad dan Jumlah.
1. Musnad yang mufrad terbagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Berupa fi'il, seperti:
قدم سعد = Saad telah datang.
b. Berupa isim, seperti:
سعد قادم = Saad datang.
2. Adapaun musnad jumlah ada tiga macam, yaitu:
a. Berupa sababi, seperti:
خليل أبوه منتصر او أبوه انتصر أو انتصر أبوه

"Ayah Khalil mendapat pertolongan."
b. Bertujuan menentukan hukum pada musnad ilaih, seperti:
أنا سعيت فى حاجتك = Saya telah menunaikan keperluanmu.

Tafsiran dari contoh di atas adalah الساعى فيها أنا رغيرى , artinya: Orang yang menunaikan keperluanmu adalah saya, bukan selainnya.
c. Bertujuan untuk mengukuhkan hukum, seperti:
سعد حضر = Saad telah datang.
Tujuan mengukuhkan hukum terlihat karena pengulangan isnad sebanyak dua kali.
Terkadang musnad dikemukakan dalam bentuk dzaraf dan jar majrur, seperti:
1. خليل عندك = Khalil berada di sisimu.
2. محمود فى المدرسة= Mahmud ada di madrasah

Selasa, 23 April 2013

في الخبرِ والإنشاءِ



البابُ الأوَّلُ: في الخبرِ والإنشاءِ


كلُّ كلامٍ فهوَ إمَّا خبرٌ أوْ إِنشاءٌ.
Setiap kalam/perkataan yaitu baik ada yang disebut kalam khabar atau kalam insya’
والخبرُ ما يَصِحُّ أنْ يُقالَ لقائلِه: إنَّهُ صادقٌ فيهِ أوْ كاذِبٌ، كسافرَ محمَّدٌ وعليٌّ مُقِيمٌ
Kalam khabar adalah setiap perkataan yang shah/patut dikatakan kepada orang yg mengatakannya : bahwa dia itu benar atau dia itu bohong. Contoh kalam: SAAFARO MUHAMMADUN “Muhammad telah pergi” dan ‘ALIYYUN MUQIIMUN “‘Ali adalah orang yang menetap”.

والإنشاءُ ما لا يَصِحُّ أنْ يُقالَ لقائلِه ذلكَ، كسافِرْ يا محمَّدُ أَقِمْ يا عليُّ
Sebaliknya kalam insya’ adalah setiap perkataan yang tidak patut dikatakan kepada yg mengatakannya: bahwa dia itu benar atau bohong. Contoh kalam : SAAFIR YAA MUHAMMADU “pergilah wahai Muhammad..!” dan AQIM YAA ‘ALIY “menetaplah wahai Ali..!”.
والمرادُ بصِدْقِ الخبَرِ مطابقتُه للواقعِ، وبكذِبِه عدمُ مطابقتِه له.
Yang dimaksud dengan benarnya khabar adalah kecocokannya dengan kenyataan, sebaliknya kebohongan khabar adalah tidak adanya kecocokan dengan kenyataan.
فجملةُ عليٌّ مقيمٌ إنْ كانت النِّسبةُ المفهومةُ منها مطابِقةً لما في الخارجِ فصِدْقٌ، وإلاَّ فكَذِبٌ
Maka kalam ‘ALIYYUN MUQIIMUN jika penisbatan yang difahami dari perkataan tsb mencocoki dengan keadaan maka dikatakan shidq/benar, dan jika tidak maka dikatakan kadzib/bohong.
ولكلِّ جملةٍ رُكنانِ: محكومٌ عليه، ومحكومٌ به.ويُسمَّى الأوَّلُ مسْنَدًا إليه، كالفاعلِ ونائبِه، والمبتدأِ الذي لهُ خَبَرٌ. ويُسمَّى الثاني مُسْنَدًا، كالفعْلِ والمبتدأِ المكتفي بمرفوعِه.
Tiap kalam terdapat dua rukun/unsur : 1. Mahkum ‘Alaih, 2. Mahkum Bih. Rukun yang pertama dinamakan Musnad Ilaih, seperti Faa’il, Naibul Faa’il, Mubtada yg mempunyai khobar. Rukun yg kedua dinamakan Musnad, seperti Fi’il, Mubtada yg cukup dengan faa’ilnya (masaddal khobar)

MACAM2 TASHBIH
Cara pengungkapan suatu ide dengan menggunakan model Tasybih pada dasarnya dapat melalui macam-macam bentuk. Bentuk-bentuk pengungkapan tersebut menunjukan jenis dari tasybih. Pembagian jenis tasybih sendiri dapat dilihat dari berbagai segi:

 1.      Dilihat dari segi ada atau tidak ada Adat Tasybih

    Tasybih Mursal (disebut adat tasybih-nya)
Contoh :
انت كالشمس في الضياء وإن جا # وزت كيوان في علوّالمكان

    Tasybih Muakkad (dibuang adat tasybih-nya)
Contoh:

انت شمس في الضياء وإن جاوزت كيوان في علوّالمكان

2.      Dilihat dari segi ada atau tidak adanya wajah bsyibeh

    Tasybih mufashshol (disebut wajah syibh-nya)
Contoh:
انت كالشمس في الضياء وإن جا # وزت كيوان في علوّالمكان

    Tasybih mujmal (dibuang wajh syibh-nya)
Contoh:
انت كالشمس وإن جاوزت كيوان في علوّالمكان

3.      Dilihat dari ada atau tidak adanya adat dan  wajah syibeh

    Tasybih baligh adalah tasybih yang dibuang adat tasybih dan wajh syibihnya.
Contoh:

انت شمس

    Tasybih Ghair Baligh adalah tasybih yang merupakan kebalikan dari tasybih baligh.
Contoh:
انت كالشمس في الضياء وإن جا # وزت كيوان في علوّالمكان

4.      Dilihat dari bentuk wajah syibeh

    Tasybih Tamsil adalah tasybih yang keadaan wajh syibih-nya terdiri dari gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal.
Contoh:
يهزالجيش حولك جانبيه # كما نفضت جناحيها العقاب

“ Pasukan disekelilingmu  bergerak seirama di kanan kirimu, sebagaimana  burung yang menggerakkan kedua sayapnya.”

    Tasybih Ghoer Tamsil tasybih yang wajh syibihnya tidak terdiri dari rangkaian rangkaian beberapa hal.
Contoh :

هو بحر السماح و الجود فازدد #  منه قربا تزدد من الفقلر بعدا

“Ia adalah lautan kemurahan. Tingkatkan pendekatanmu kepadanya, maka kamu akan bertamabah jauh dari kefakiran.”

5. Tasybih yang keluar dari kebiasaan

    Tasybih Maqlub adalah menjadikan musyabah sebagai musyabbah bih dengan mendakwahkan bahwa titik keserupaannya lebih kuat pada musyabbah.
Contoh:
وبدا الصباح كان غرته # وجه الخليفة حين يمتدح

” Pagi telah muncul, seakan-akan gebyarnya adalah wajah khalifah ketika dipuji.”

    Tasybih Dhimni adalah tasybih yang kedua tharaf-nya tidak dirangkan dalam bentuk tasybih yang telah kita kenal, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih jenis ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hokum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adaya.
Contoh:
من يهن يسهل الهوان عليه # ما لجرح بميت ايلام

“ Barang siapa yang merendah, maka akan mudah ia menanggung kehinaan. Luka bagi mayat tidak memberinya sakit. “