Pages

Sabtu, 27 April 2013

kreatif susah juga.......

Imajinatif, bisa membuat seseorang menjadi kreatif. Imaji menciptakan mimpi untuk direalisasikan. Dari impian Edison akan sebuah penerangan tanpa minyak, terciptalah bolam. Dari impian Bill Gates bahwa komputer akan ada disetiap rumah warga, terciptalah PC. Imajinatif juga membuat seorang JK Rowling sukses membuai penduduk dunia dengan eksistensi dunia sihir yang begitu hidup. Imajinasi juga yang membuat tokoh-tokoh ciptaan Walt Disney nyata di tengah kehidupan anak-anak.
Imajinasi yang membuat Joni Ariadinata sukses menjadi seorang sastrawan populer dari kehidupannya sebagai tukang becak tanpa rumah. Impian juga yang membuat Lincoln tak henti mengejar cita-cita sampai menjadi seorang presiden AS yang kegendaris di usia 52 setelah berkali-kali ditinggal orang-orang tercinta, dipecat dari pekerjaan, terjerat hutang, dan berkali-kali gagal mendaftar sebagai anggota parlemen.
Aniway, masih berkaitan dengan imajinasi, kreatif mungkin bukanlah sebuah bakat. Tapi suatu keterampilan yang dapat diasah, suatu hal yang akan cepat berkembang ketika kita dihadapkan pada berbagai kondisi sulit. Kreatif selalu berawal dari impian dan imajinasi. Itu manisnya.
Barangkali sifat (atau sikap) imajinatif yang sedikit kumiliki agak berbeda. Imajinatif memang mampu membuatku terhanyut dalam aliran cerita komik atau novel yang kubaca, imajinatif membuatku larut mendalami cerpen yang kubuat (meski dari sekian yang kukirim, baru satu yang dimuat). Imajinatif juga menolongku memanfaatkan kertas bekas warna-warni untuk membungkus kado ketika merasa sayang untuk membuangnya. Sayangnya, imajinatif yang kupunya belum mendorongku untuk melakukan suatu hal luar biasa yang bisa mengubah hidupku. Mungkin harus menunggu keadaan benar-benar mendesakku sampai pojok kehidupan
Jeleknya, imajinatif membuatku menjadi penakut. Setiap adegan film, komik, novel atau cerpen yang menakutkan, selalu terbayang-bayang di depan mataku. Dan satu lagi, membuatku kadang tidak bisa membedakan antara realita dan kenyataan (lah iya, wong realita sama kenyataan tuh emang sama). Maksudku, realita dan angan-angan. Imajinasi membuatku banyak berprasangka seperti seorang detektif yang merunut suatu kejadian berdasar potongan fakta yang diketahuinya. Tentu saja sebagian besar kenyataan tidak sesuai dengan rekaanku.
Misalnya saja ni, aku pernah membenci seseorang. Dari hal-hal yang kuketahui, kususun fakta untuk menguatkan argumenku untuk benar-benar membencinya. Saat kuceritakan pada sohibku, ”kamu ni ada-ada aja,” sambil tertawa. Memang aneh kayaknya, masa sih aku membuat skenario sendiri dari kejadian yang sudah terjadi (dengan kehendak Allah tentunya). Sama sekali aku tak menyukai imajinasi yang ini.
Imajinasi juga membuat pikiranku lebih kompleks. Saat ada banyak hal terjadi padaku, melintas di pikiranku, semuanya tak terkendali. Beberapa lintasan pikiran memaksa untuk berimajinasi dengan beberapa runutan kejadian yang berbeda, pada waktu yang bersamaan. Akibatnya… pusink…. sampai-sampai aku merasa harus mengikat kepalaku (ala orang Jepang yang lagi berpikir keras/serius) untuk memastikan bahwa isi pikiranku tidak akan berloncatan kemana-mana (maksudku berpikir, melayang yang enggak-enggak). Sugesti ini cukup efektif, pikiranku jadi lebih tenang. MayB guys en gals ada yang pernah mengalami permasalahan yang sama denganku en mo share gimana penanganannya?

Selasa, 23 April 2013

في الخبرِ والإنشاءِ



البابُ الأوَّلُ: في الخبرِ والإنشاءِ


كلُّ كلامٍ فهوَ إمَّا خبرٌ أوْ إِنشاءٌ.
Setiap kalam/perkataan yaitu baik ada yang disebut kalam khabar atau kalam insya’
والخبرُ ما يَصِحُّ أنْ يُقالَ لقائلِه: إنَّهُ صادقٌ فيهِ أوْ كاذِبٌ، كسافرَ محمَّدٌ وعليٌّ مُقِيمٌ
Kalam khabar adalah setiap perkataan yang shah/patut dikatakan kepada orang yg mengatakannya : bahwa dia itu benar atau dia itu bohong. Contoh kalam: SAAFARO MUHAMMADUN “Muhammad telah pergi” dan ‘ALIYYUN MUQIIMUN “‘Ali adalah orang yang menetap”.

والإنشاءُ ما لا يَصِحُّ أنْ يُقالَ لقائلِه ذلكَ، كسافِرْ يا محمَّدُ أَقِمْ يا عليُّ
Sebaliknya kalam insya’ adalah setiap perkataan yang tidak patut dikatakan kepada yg mengatakannya: bahwa dia itu benar atau bohong. Contoh kalam : SAAFIR YAA MUHAMMADU “pergilah wahai Muhammad..!” dan AQIM YAA ‘ALIY “menetaplah wahai Ali..!”.
والمرادُ بصِدْقِ الخبَرِ مطابقتُه للواقعِ، وبكذِبِه عدمُ مطابقتِه له.
Yang dimaksud dengan benarnya khabar adalah kecocokannya dengan kenyataan, sebaliknya kebohongan khabar adalah tidak adanya kecocokan dengan kenyataan.
فجملةُ عليٌّ مقيمٌ إنْ كانت النِّسبةُ المفهومةُ منها مطابِقةً لما في الخارجِ فصِدْقٌ، وإلاَّ فكَذِبٌ
Maka kalam ‘ALIYYUN MUQIIMUN jika penisbatan yang difahami dari perkataan tsb mencocoki dengan keadaan maka dikatakan shidq/benar, dan jika tidak maka dikatakan kadzib/bohong.
ولكلِّ جملةٍ رُكنانِ: محكومٌ عليه، ومحكومٌ به.ويُسمَّى الأوَّلُ مسْنَدًا إليه، كالفاعلِ ونائبِه، والمبتدأِ الذي لهُ خَبَرٌ. ويُسمَّى الثاني مُسْنَدًا، كالفعْلِ والمبتدأِ المكتفي بمرفوعِه.
Tiap kalam terdapat dua rukun/unsur : 1. Mahkum ‘Alaih, 2. Mahkum Bih. Rukun yang pertama dinamakan Musnad Ilaih, seperti Faa’il, Naibul Faa’il, Mubtada yg mempunyai khobar. Rukun yg kedua dinamakan Musnad, seperti Fi’il, Mubtada yg cukup dengan faa’ilnya (masaddal khobar)

MACAM2 TASHBIH
Cara pengungkapan suatu ide dengan menggunakan model Tasybih pada dasarnya dapat melalui macam-macam bentuk. Bentuk-bentuk pengungkapan tersebut menunjukan jenis dari tasybih. Pembagian jenis tasybih sendiri dapat dilihat dari berbagai segi:

 1.      Dilihat dari segi ada atau tidak ada Adat Tasybih

    Tasybih Mursal (disebut adat tasybih-nya)
Contoh :
انت كالشمس في الضياء وإن جا # وزت كيوان في علوّالمكان

    Tasybih Muakkad (dibuang adat tasybih-nya)
Contoh:

انت شمس في الضياء وإن جاوزت كيوان في علوّالمكان

2.      Dilihat dari segi ada atau tidak adanya wajah bsyibeh

    Tasybih mufashshol (disebut wajah syibh-nya)
Contoh:
انت كالشمس في الضياء وإن جا # وزت كيوان في علوّالمكان

    Tasybih mujmal (dibuang wajh syibh-nya)
Contoh:
انت كالشمس وإن جاوزت كيوان في علوّالمكان

3.      Dilihat dari ada atau tidak adanya adat dan  wajah syibeh

    Tasybih baligh adalah tasybih yang dibuang adat tasybih dan wajh syibihnya.
Contoh:

انت شمس

    Tasybih Ghair Baligh adalah tasybih yang merupakan kebalikan dari tasybih baligh.
Contoh:
انت كالشمس في الضياء وإن جا # وزت كيوان في علوّالمكان

4.      Dilihat dari bentuk wajah syibeh

    Tasybih Tamsil adalah tasybih yang keadaan wajh syibih-nya terdiri dari gambaran yang dirangkai dari keadaan beberapa hal.
Contoh:
يهزالجيش حولك جانبيه # كما نفضت جناحيها العقاب

“ Pasukan disekelilingmu  bergerak seirama di kanan kirimu, sebagaimana  burung yang menggerakkan kedua sayapnya.”

    Tasybih Ghoer Tamsil tasybih yang wajh syibihnya tidak terdiri dari rangkaian rangkaian beberapa hal.
Contoh :

هو بحر السماح و الجود فازدد #  منه قربا تزدد من الفقلر بعدا

“Ia adalah lautan kemurahan. Tingkatkan pendekatanmu kepadanya, maka kamu akan bertamabah jauh dari kefakiran.”

5. Tasybih yang keluar dari kebiasaan

    Tasybih Maqlub adalah menjadikan musyabah sebagai musyabbah bih dengan mendakwahkan bahwa titik keserupaannya lebih kuat pada musyabbah.
Contoh:
وبدا الصباح كان غرته # وجه الخليفة حين يمتدح

” Pagi telah muncul, seakan-akan gebyarnya adalah wajah khalifah ketika dipuji.”

    Tasybih Dhimni adalah tasybih yang kedua tharaf-nya tidak dirangkan dalam bentuk tasybih yang telah kita kenal, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih jenis ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hokum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adaya.
Contoh:
من يهن يسهل الهوان عليه # ما لجرح بميت ايلام

“ Barang siapa yang merendah, maka akan mudah ia menanggung kehinaan. Luka bagi mayat tidak memberinya sakit. “


Minggu, 21 April 2013

RESENSI KITAB TAFSIR IBNUL MAS’UD R.A




Judul Asli : Tafsir Ibnu Mas’ud, Jam’wa tahqiq wa dirasah
Judul Terjemahan : Tafsir Ibnu Mas’ud
Diterbit oleh Pustaka Azzam – Indonesia
Dengan Tebal : 1115

Siklas Tentang Kitab Tafsir Ibnu Mas’ud
Buku (Kitab) ini asal nya adalah merupakan tesis yang disidangkan di Universitas Kairo pada tahun 1400 H atau 1980 M dan dengan kitab ini penulis memperoleh gelar Magister (MA) dengan nilai Mumtaz (Excellent). Tesis ini direkomendasikan agar dicetak lalu didistribusikan ke Universitas – Universitas. Tesisi ini atau Kitab Tafsir Ibnu Mas’ud ini ditulis oleh penulis dibawah bimbingan Syaikh DR.Husain Muhammad Nushshar [Dekan Fakultas Sastra Universitas Kairo]. Selain itu penulis Muhammad Ahmad Isawi juga dibimbing oleh Syaikh Mahmud Muhammad Syakir didalam menyusun metode tafsir ini, mempelajari sanad-sanad dan mengatasi kesulitan yang ada.

Setelah selesai, maka kitab ini dicetak dengan dana sumbangan dari Muassasah Al-Malik Faishal Al-Khairiyyah [Yayasan Raja Faisal Al-Khairiyyah] yang pada saat itu diketuai oleh Raja Faisal bin Abdul Aziz Alu Su’ud hafizhullah. [Lihat, Tafsir Ibnu Mas’ud, halaman 1-2]



Syaikh DR.Husain Nushar [Dekan Fakultas Sastra Universitas Kairo] berkata didalam kata pengantarnya terhadap kitab ini :
“Ketika Muhammad Ahmad Isawi mengajukan tesis ini untuk dikerjakan dibawah pengawasan ku, aku memintanya agar memasukkan nya dalam studi-studi agama, dan diapun menyetujuinya. Sebelumnya aku telah menyusun rencana panjang untuk menulis sejarah ilmu tafsir dengan meneliti tafsir – tafsir yang masih tersisa baik yang masih dalam bentuk manuskrip atau yang sudah dicetak dengan penelitian yang jeli dan benar. Lalu kami uraikan sisi ilmiahnya, baik dalam materi maupun metodenya, kemudian dari tafsir – tafsir yang masih ada ini dan sumber – sumber lain nya, kami akan menyusun tafsir – tafsir yang buku – bukunya belum sampai kepada kita. Kami akan menyusun dan mentahqiqnya lalu mempelajarinya, sebagaimana kami mempelajari tafsir – tafsir yang masih ada. Jika kami telah selesai melakukan pekerjaan ini, berarti kami telah mempersiapkan pondasi yang bisa dibagun diatasnya sebuah bagunan yang benar dan tegak tentang sejarah ilmu tafsir.

Studi pertama, aku buat untuk sahabat Abdullah bin Mas’ud yang terkenal memiliki hubungan dengan al-Quran, yang dari perkataan – perkataan dan pendapat – pendapatnya saya telah menimba berbagai buku. Kemudia tugas ini aku serahkan kepada Muhammad Isawi untuk diteliti tafsirnya dibawah pengawasa ku. Maka mulailah studi ini, diakhiri mencari bahan – bahan tesis diperpustakaan Arab.

Mulanya saya khawatir ia akan meninggalkan pekerjaan ini sedikit demi sedikit, tapi, ternyata mahasiswa ku ini (Muhammad Isawi) adalah seorang yang penyabar dan pekerja keras yang tidak pernah bosan dan putus asa. Ia tidak berhenti untuk bekerja keras dan meluangkan waktunya. Ternyata bahan yang dia peroleh lebih banyak dari yang kami kira sebelumnya.

Ia pun mulai mengerjakan tesis ini dengan cara menhimpun segala sesuatu yang perlu dihimpun hingga selesai da sampai dihadapan kami. Sebagaimana tesis ini juga dipersembahkan kepada pembaca dalam bentuk buku yang telah dicetak.

Kemudian aku menyampaikan tesis ini ke dewan universitas untuk disidangkan. Ternyata dewan kampus sangat kagum dan memberikan nilai mumtaz (excellent), juga merekomendasikan agar tesis ini dicetak.

Aku sangat puas dengan tesis atau buku ini, karena ia telah mewujudkan apa yang telah ku rencanakan sebelumnya. Karena itu sangatlah pantas jika penulisnya diberi predikat peneliti berbakat dalam bidang yang Allah telah memilih untuknya. Kami berharap semoga setelah nya akan muncul rekan – rekan yang dapat menyempurnakan jalan nya dan melangkah sesuai langkahnya, agar kita bisa mencapai tujuan yang sebelumnya telah ku rencanakan.

Buku ini ku persembahkan kepada para ulama, dengan harapan mendapat respon positif dan perhatian dari mereka, sehingga akan muncul makalah – makalah yang isinya memberikan kritik membangun dan evaluasi, yang mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya oleh penulis, dan juga aku beserta teman – teman ku di jurusan Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Kairo, bahkan oleh seluruh Universitas Arab dan Islam.” [Lihat, Tafsir Ibnu Mas’ud, halaman 3-5]

Masa Penulisan Sumber Tafsir Ibnu Mas’ud
Ustadz Muhammad Ahmad Isawi hafizhullah berkata didalam Muqaddimah Tafsir Ibnu Mas’ud :
“Demi Tafsir Ibnu Mas’ud ini aku harus menghabiskan waktu lebih dari 3 tahun. Dalam penyusunan Tafsir Ibnu Mas’ud ini saya menggunakan banyak sumber dan referensi yang saya sebutkan dalam daftar pustaka dan referensi dibagian akhir buku ini.”
Catatan : Didalam terjemahan daftar pustaka kitab ini ditulis pada halaman 111 - 123.
Diantara referensi yang terpenting adalah :
1. Al-Muwaththa’ karya Imam Malik bin Anas rahimahullah
2. Musnad Ar-Rabi’ Al-Jami’ Ash-Shahih karya Imam Ar-Rabi’ Al-Azdi rahimahullah
3. Musnad asy-Syafi’I karya Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’I rahimahullah
4. Musnad Ibnu Hambal karya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah
5. Shahih Bukhari karya Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah
6. Shahih Muslim karya Imam Muslim bin Hajjaj rahimahullah
7. Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’I, Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir dan lain-lain nya.

Sekilas Tentang Isi Kitab
Kitab tafsir Ibnu Mas’ud diawali dengan Ucapan Terima Kasih, setelah itu dengan Kata Pengantar dari Syaikh DR.Husain Nushshar, baru kemudian Muqaddimah.
Didalam Muqaddimah nya, penulis menerangkan beberapa perkara diantara nya adalah Perjalanan beliau didalam mencari referensi, kemudian Dasar – Dasar Pengumpulan Tafsir, Kemudian Metode Penetapan Riwayat, Kemudian Referensi – Referensi terpenting, baru kemudian masuk kedalam bab yang baru.
Pada Bagian Pertama, beliau menyebutkan Biografi Ibnu Mas’ud dan Tafsirnya. Beliau menyebutkan Masa pertumbuhan Ibnu Mas’ud, Keislaman nya, Hijrahnya, Perlayanan Ibnu Mas’ud terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, Jihadnya beliau, dan lain – lain. Sampai diakhir bab ini ditutup dengan menyebutkan murid – murid Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu.
Pada Bagian Kedua, beliau menjelaskan Gaya Ibnu Mas’ud dalam tafsirnya. Setelah itu beliau menyebutkan referensi kitab tafsir Ibnu Mas’ud ini. Setelah itu beliau memulai tafsir al-Quran. Yang dimulai dengan Tafsir Isti’adzah, baru surat al-Fatihah, dan diakhir kitab beliau menutup dengan Doa Khatam al-Quran.

Sungguh kitab tafsir yang sangat menarik, sangat bagus, sangat terpercaya. Bagi para pelajar ilmu agama, maka wajib baginya untuk merujuk kedalam kitab Tafsir ini, supaya dia mempunyai pegangan kuat dan landasan yang benar didalam ilmu tafsir al-Quran. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertologan dan keselamatan

Sabtu, 20 April 2013

ilmu dan komitmennya terhadap islam

Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disitematisasi dan interpretasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis, kata ilmu berarti “kejelasan”.
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra intuisi dan firasat.
Adapun pembagian keilmuan menurut beberpaa intelektual muslim yang dikemukakan oleh Muhammad Tholhah Hasan (2005), yaitu:
a.       Menurut Jabir Ibnu Hayaan (160 H)
Dalam bukunya al-Hudud dikatakan bahwa ada dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan agama dan pengetahuan duniawi.
b.      Menurut Al-Kindy (260 H)
Al-Kindy membagi sistematika epistemology dalam teoris dan prktis. Pengetahuan teoritis dibagi kembali menjadi dua kategori, yaitu pengetahuan teologis dan pengetahuan kemakhlukan atau ilmu kauniyah. Dalam bukunya Ar-Rasaail, Al-Kindy membedakan antara pengetahuan yang diperoleh secara emanasi (yang tidak memerlukan pengujian rasional) dan secara matematis (yang diperoleh melalui edukasi yang dikaji secara logis.
c.       Menurut Al-Faraby (339 H)
Al-Faraby adalah salah satu filosof muslim yang mengemukakan bahwa salah satu sumber pengetahuan itu ada yang langsung dari Tuhan.
d.      Menurut Al-Khawarizmy (387 H)
\Al-Khawarizmy memberi gambaran secara klasifikatoris antara pengetahuan yang berasal dari Arab dan berasal dari luar Arab yang dikembangkan dalam cakrawala intelektual Islam pada masa itu.
e.       Menurut Al-Ghazali
Dalam karya besarnya Ihya’ Ulumuddin, keilmuan dibagi menjadi dua macam, yaitu: pengetahuan agama dan pengetahuan non agama. Pengetahuan agama adalah pengetahuan yang diperoleh dari para nabi dan tidak dapat ditunjuk dengan rasio (akal). Seperti ilmu hitung dan tidak dapat dieksperimentasikan semacam ilmu kedokteran, juga tidak dapat diterima secara akustik, seperti ilmu bahasa. Sedangkan ilmu pengetahuan non agama terbagi menjadi tiga macam yaitu ilmu yang terpuji, ilmu yang tercela, dan ilmu yang diperbolehkan.
f.       Menurut Khaldun (808 H)
Dalam buku “Mukaddimah”, Khaldun mengklasifikasi pengetahuan menjadi dua. Yaitu Ulum hukmiyah, yaitu pengetahuan yang alamiah bagi manusia yang diperoleh melalui potensi penalarannya. Dan pengetahuan Naqliyah Wadh’iyah, yaitu pengetahuan yang seluruhnya didasarkan pada informasi dari Tuhan.
Pada hakekatnya ilmu pengetahuan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: imu agama (ulumuddin) dan ilmu non agama. Islam tidak mengenal pemisah antara ilmu agama dan ilmu yang bukan agama karena pada dasarnya menuntut ilmu adalah kewajiban semua orang terlepas dari apakah itu ilmu agama atau bukan agama. Kita harus tetapi ingat, bahwa ilmu agama merupakan ilmu yang menjadi landasan segala cabang ilmu.
Teknologi adalah aplikasi dari prinsip-prinsip keilmuan, sehingga menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan manusia. Teknologi dapat memberi dampak positif dan juga negatif. Berbagai pengetahuan dapat kita peroleh dengan sangat cepat. Sehingga kita dapat menambah wawasan yang kita miliki. Dan juga sebalinya, perkembangan teknologi justru dapat merusak generasi-generasi pemuda penerus bangsa jika perkembangan ini tidak dapat digunakan secara benar. 
Seni Islam adalah segala hasil daya cipta, buah pikiran dari kaum muslim untuk menghasilkan sesuatu yang indah. Seni Islam  dapat juga diberi batasan sebagai suatu seni yang dihasilkan oleh seniman muslim. Kesenian Islam bertujuan untuk menggambarkan sikap pengabdian kepada ajaran atau petunjuk Islam, dan cirri-cirinya adalah seni yang yang mengungkapkan sikap pengabdian kepada AllahSumber pengetahuan pada hakekatnya adlaah Allah SWT. Karena Dialah yang memberikan berbagai macam pengetahuan kepada manusia. Dalam perkembangannya, manusia banyak belajar dan memperoleh pengetahuan dari proses pemikirannya dengan melihat berbagai fenomena lingkungan dan alam sekitarnya. Oleh karena itu dalam pemikiran Islam, terdapat tiga sumber ilmu, yaitu wahyu, akal, serta pengalaman manusia. Ilmu yang berasal dari wahyu bersifat abadi, mutlak, dan berfungsi sebagai pedoman hidup manusia, sedangkan ilmu yang berasal dari akal ataupun pengalaman manusia itu bersifat perolehan, relative dan berfungsi sebagai sarana dalam kehidupan manusia. Manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akalnya dengan catatan dalam pengembangannya tetapi terikat dengan wahyu dan tidak bertentangan dengan syari’at
Integrasi Iman, Ilmu, dan Amal sebagai Satu Kesatuan
Iman adalah kepercayaan terhadap wujud Zat yang Maha Mutlak yang menjadi tujuan hidup manusia. Iman merupakan potensi dasar yang harus dikembangakan dan pengembangannya adalah dalam bentuk amal. Iman tanpa amal sama dengan potensi yang tak dikembangkan. Supaya perkembangan iman bermakna maka diperlukan ilmu. Ilmu merupakan motor penggerak untuk majunya Islam. Iman adalah kendali yang mengarahkan motor tadi supaya mencapai tujuan. Iman tidak akan bisa dipisahkan oleh ilmu.
Islam melihat bahwa IPTEKS dan agama adalah sesuatu yang memiliki kaitan. Sains tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan. Agama menjadi landasan segala perilaku manusia termasuk di dalamna sains dan teknologi. Islam melihat sains sebgai suatu hal yang sangat penting karena dengan sains dan teknologi manusia akan dapat:
1.      Mengenal Tuhannya
2.      Menegakkan hakikat kebenaran
3.      Membawa manusia kepada sikap tafakkur dan berfikir
4.      Membantu manusia memenuhi keperluan material untuk kehidupannya
5.      Membantu manusia dalam melaksanakan syariat
6.      Menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam.
Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal shaleh apabila perbuatan tersebut tidak dibagun di atas landasan iman dan takwa. Sama halnya dengan pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan, tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya. Apabila IPTEKS tidak dikembangkan di atas dasar iman, maka akan timbul kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan umat manusia.
Komitmen Islam terhadap Ilmu Pengetahuan
            Selain diperintahkan oleh Rasulullah SAW agar ilmu pengetahuan dan teknologi di cari kapan saja(sejak manusia lahir sampai meninggal dunia) dan dimana saja(sekalipun di Negara cina dan dinyatakan hukumnya wajib bagi setiap manusia yang mengaku beragama islam, ayat pertama-tama diturunkan kepada rasulullah menyangkut perintah untuk selalu membaca tertera di dalam Q.S Al-AL-ALAQ,96:1-5.
            Baik dalam tinjauan normatif maupun tinjauan histories islam sebenarnya merupakan suatu agama yang strategis untuk dujadikan paradigma bagi IPTEK
            DAlam alquran kata ilmu disebut sebanyak 105 kali.Alquran yang merupakan pegangan normative bagi umat islam di dalamnya penuh dengan muatan-muatan yang bersifat dokmatis agar umat islam senantiasa hidup berkemajuan dengan IPTEK.
            Menurut perhitungan Muhammad Ijazul khatib dari universiatas damaskus sekitar 700 ayat  atau hampir seperdelapan dari seluruh isi alquran menegur orang-orang mukmin untuk mempelajari alam semesta untuk berfikir dan untuk menjadikan kegiatan ilmiah sebagai suatu yang tak terpisahkan dari kegiatan integral umat dari data itu dapat diduga bahwa munculnya obsesi terbesar antara agama dan IPTEK terjadi pada  agama islam.
            Baik alquran maupun assunah memang tidak pernah menjabarkan secara detail metode-metode IPTEK serta seluk beluknya..Hal tersebut dimaksudkan agar manusia mau berusaha untuk mencarinya dengan menggunakan kekuatan akal semaksimal mungkin sesuai dengan perkembangan yang terjadi,terlebih tingkat perkembangan intelektualitas manusia kian lama kian berkembang perubahan ini merupakan proses kreatifitas dari manusia itu sendiri.            Adapun dari konteks histories dapat dilacak pada lateratur literature modern bahwa pada masa silam umat islam pernah berabad-abat memelopori hukum fisika, ilmu alam, ilmu falaq, dan metode-metode eksperimen lainnya. Mereka memyadari bahwa jagad raya dan isinya dibentangkan oleh allah merupakan fasilitas yang harus dimanfaatkan dan untuk melakukannya dibutuhkan seperangkat teknologi pertanian, peternakan, perikanan, pertambangan, tekstil, kedokteran, farmasi, arsitektur, informasi dan lainnya.          George Sarton mengadakan pemetaan prestasi di bidang IPTEK ke dalam beberapa periode dan pada tiap-tiap priode yang berjangka kurang lebih setengah abad  loeh sarton dinilai sangat berpengaruh bagi perkembangan IPTEK di era berikutnya.Menurut Sarton-450 SM merupakan zaman plato ,kemudian diikuti dengan aristoteles,eucid,Archimedes,plotomeus dan seterusnya dari tahun 600-700 M merupakan abad kejayaan cina dengan tokohnya Hsin tsang dan i-cing dari tahun 750-110 M oleh saron disebu zaman kejayaan islam yang berasal dari jazirah islam(arab,turki,Persia,spanyol.rusia)mereka antara lain ibnu Hain.
Setelah tahun 1100 barulah muncul nama-nam ilmuan barat yang pertama diwakili oleh Roger bacon.namun kehormatan ini pun masih harus dibagi selama 350 tahun berikutnya dengan yokoh-tokoh seperti ibnu Rush.
            Jadi sebelum setengah abad tahun 1100 dan dua setengah abad setelah tahun 1100 atau totalnya 6 abad Intelektual muslim memainkan peran dominan dalam mengembangkan iptek.
            Perkembangan IPTEK di dunia islam menurut harun nasution di dahului penerjemah buku yunani kedalam bahasa arab yang berpusat di Bayt Alhikmah,Bagdad ilmu-ilmu yang di cakup dalam gerakan penerjemah ini adalah ilmukedokteran,matematika,fisika,mekanika,botanika,optika,ostronomi,disamping filsafat adapun karya-karya yang diterjemahkan adalah dari galinos,hipocrates dll.buku-buku dipelajari oleh ulama-ulama island dan pengembangan di bawah pengaruh khalifah-khalifah abbas antara lain ilmu hitung,ilmu ukur,ilmu aljabar .     Cendikiawan dan ulama islam pada masa silam bukan hanya menguasai ilmu dan filsafat yang mereka peroleh dari peradaban yunani klasik itu melainkan mereka kembangkan dan tambahan dari hasil-hasil penyelidikan mereka sendiri dalam lapangan ilmu penetahuan dan hasil-hasil pemikiran mereka dalam lapangan filsafat.dengan demikian timbullah ilmuan dan filosof islam disamping ulama dalam ilmu agama untuk mengembangkan ilmu-ilmu itu didirikan universitas-universitas yang termashur diantaranya universitas Cordoba di andalus (spanyol islam).
            Tujuh factor yang menjadi pendorong bagi kemajuan IPTEK di dunia islam pada abad yang lalu, antara lain:
1.      kesatuan agama dan budaya agama islam
2.      arabisasi dan peranan bahasa arab
3.      akademi, sekolah, observasi, dan perpustakaan
4.      kebijakan Negara tentang pengembangan IPTEK
5.      Perlindungan Negara sangat jelas terhadap para ilmuan dan para insinyur
6.      Penelitian, eksperimen dan penemuan baru
7.      Perdagangan internasional