Pages

Sabtu, 30 Maret 2013

Resensi Kitab Nawadhir AlAik Fi MaKrifati AnNaik imam syuyuti


JUDUL             : Nawadhir AlAik Fi MaKrifati AnNaik)
PENGARANG : IMAM As-Suyuthy

Jawaban

Kitab ini berbicara tentang hal-hal teknis berkaitan dengan hubungan suami istri serta segala istilah yang berkaitan dengannya. Istilah-istilah yang digunakan vulgar baik berkaitan dengan aurot, rekomendasi posisi, gerakan, teknik mencapai puncak dsb. Sebagian negeri kaum muslimin melarang peredarannya karena faktor kevulgaran kitab ini.
Dalam Muqoddimah yang dinisbatkan pada pengarang kitab ini, ditulisnya kitab ini adalah sebagai bentuk Dzail (lampiran) dari kitabnya yang lebih besar yang berjudul;
الوِشَاحُ فِيْ فَوَائِدِ النِّكَاحِ (Al-Wisyah Fi fawaid An-Nikah).
Yang mana kitab Al-Wisyah tersebut juga berbicara tentang Jimak dan hal-hal teknis yang berkaitan dengannya.
Kitab Al-Wisyah sendiri konon  adalah ringkasan  dari kitab yang lebih besar yang berjudul;
مَبَاسِمُ الْمُلاَحِ وَمَنَاسِمُ الصَّباَحِ فِيْ مَوَاسِمِ النِّكاَحِ (Mabasim Al-Mulah Wa Manasim As-Shobah Fi Mawasim An-Nikah).
Kitab Mabasim ini berbicara lebih detail lagi terkait hadis dan atsar yang berhubungan dengan jimak, istilah-istilah kebahasaan, kisah-kisah, syair-syair, dan tehnik melakukan. Semuanya adalah pembahasan yang terkait dengan Jimak.
Kitab Nawadhir Al-Aik dinisbatkan pada Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) sebagai pengarangnya. Namun sebagian ulama dan peneliti meragukan penisbatan tersebut dengan argumen bahwa diantara kitab yang dideret As-Suyuthi dalam karya-karya yang beliau sebutkan, tidak ada nama kitab Nawadhir Al-Aik tersebut.
Kitab tentang Jimak dan adab-adabnya, yang diakui peneliti memang dikarang oleh as-Suyuthy ada tiga buah yaitu;
الوِشَاحُ فِيْ فَوَائِدِ النِّكَاحِ (Al-Wisyah Fi fawaid An-Nikah),
اليَوَاقِيْتُ الثَّمِيْنَةُ فِيْ صِفَاتِ السَّمِيْنَةِ (Al-yawaqit Ats-Tsaminah Fi Shifat As-Saminah), dan
شَقَائِقُ الأُتْرُنْجِ فِيْ رَقَائِقِ الْغُنْجِ (Syaqo-iq Al-Utrunji Fi Roqo-iqi Al-Ghunji).
Termasuk pula Maqomat (jenis sastra puisi) yang berjudul;
رَشْفُ الزُّلاَلِ مِنَ السِّحْرِ الْحَلاَلِ (Rosyfu Az-Zulal Min As-Sihri Al-Halal)
Judul-judul lain seperti;
1- كتاب ضوء الصباح في لغات النكاح.
2- كتاب الافصاح في اسماء النكاح.
3- كتاب الايضاح في اسرار النكاح.
4- كتاب نزهة العمر في التفضيل بين البيض والسود والسمر.
5- كتاب نزهة المتأمل ومرشد المتأهل.
Kitab-kitab ini diragukan dikarang oleh As-Suyuthi.
Berbicara tentang referensi seputar Jimak dalam khazanah Turots Islam, akan ditemui banyak karya yang membahas hal tersebut. Berikut ini didaftarkan sejumlah referensi yang terkenal selain yang dikenal dipesantren-pesantren seperti  قرة العيون  (qurrotul ‘Uyun). Referensi-refenesi ini dideret  tanpa membedakan apakah referensi tersebut ditulis dengan gaya Fikih dengan pembahasan dalil ataukah semata-mata rekomendasi teknis dan pembahasan fakta yang kadang-kadang sebagiannya bermasalah dari segi hukum.
  1. تحفة العروس ومتعة النفوس لأب القاسم محمد بن أحمد التاجاني ت –بعد 709
  2. تحفة العروس لمحمود مهدي الإستانبولي
  3. تحفة العروس لمجدى بن منصور بن سيد الشورى
  4. أوقات النكاح لابن قيم الجوزية
  5. رجوع الشيخ إلى صباه فى القوة على الباه لأحمد بن سليمان الشهير بابن كمال باشا (المتوفى سنة (940))
  6. الروض العاطر فى نزهة الخاطر لأبي عبد الله محمد بن محمد النفزاوى قاضى تونس (المتوفى سنة (725)) ،
  7. تنوير الوقاع بأسرار الجماع للنفزاوى أيضا
  8. تسهيل المنافع فى الطب والحكمة لنعمة الله الجزائرى (المتوفى سنة (1112) ،
  9. تزيين الأسواق في أخبار العشاق لداود الأنطاكي
  10. نزهة الالباب فيما لا يوجد باي كتاب لشهاب الدين أحمد التيفاشي
  11. بلاغة الجماع لعبد الكبير الخطيب
  12. كتاب جامع اللذات في الباه لأبي نصر ” نصر منصور ” بن علي الكاتب الشهير بابن السمساني وهو كتاب كبير حسن السبك والترتيب
  13. كتاب رسالة في الباه وأسبابه لابن مندوية أحمد بن عبد الرحمن الأصبهاني الطبيب
  14. كتاب رشد اللبيب إلى معاشرة الحبيب للشيخ الأديب . . ابن قليته أبى العباس أحمد بن محمد بن علي اليمنى الكاتب المتوفى سنة 231
  15. كتاب المنهاج في تعلقات الايلاج للقاضي كمال الدين محمد ابن احمد الزملكاني
  16. كتاب منية الشبان في معاشرة النسوان
  17. كتاب في علم الباه للمولى أحمد بن مصطفى المعروف بطاشكبري زاده المتوفى سنة 962
  18. كتاب نزهة الأصحاب في معاشرة الأحباب للشيخ الامام السموأل بن يحيى بن عباس المغربي ( المتوفى سنة 576 ست وسبعين وخمسمائة )
  19. كتاب أسماء النكاح لمجد الدين أبى طاهر محمد بن يعقوب الفيروزآبادي صاحب القاموس المتوفى سنة سبع عشرة وثمانمائة، سماه اسمار السراح
  20. كتاب الباه ، للرازي
  21. كتاب مرطوس الرومي في حديث الباه
  22. كتاب الأكفية الكبير
  23. كتاب الأكفية الصغير
  24. كتاب بردان وحباحب ، لأبي حسان الكبير
  25. كتاب بردان وحباحب الصغير
  26. كتاب الحرة والأمة
  27. كتاب السحاقات والبغائين ، لأبي العبس
  28. كتاب الفه ابن حاجب النعمان ويعرف بحديث ابن الدكاني
  29. كتاب لعوب الرئيسة وحسين اللوطي
  30. كتاب الجواري الحبائب
  31. كتاب الباه للنحلي
  32. كتاب العرس والعرائس للجاحظ
  33. كتاب القيان لأبن حاجب النعمان
  34. كتاب برجان وجناحب
  35. كتاب المناكحه والمفاتحة في أصناف الجماع وآلاته لعز الدين المسيحي
كتاب الفخ المنصوب إلى صيد المحبوب في علم الباه

mentalitas yang patut diteladani


Oleh : Sabiq Al Aulia Zulfa*
 Hari raya qurban akhirnya tiba. Idul Adha mengingatkan akan peristiwa fenomenal yang sudah beribu tahun silam terjadi. Dalam sejarah itu, ada makna filosofi yang begitu besar tersimpan. Namun realitasnya, kebanyakan umat Islam belum terlalu memahami makna di dalam kejadian tersebut. Sehingga perayaannya pun hanya berupa rutinitas tahunan belaka.
Jika anda memahami lebih dalam akan makna dalam peristiwa tersebut, maka ada persatuan, pengorbanan dan kepatuhan yang menjadi inti pokok, yang dapat menjadikan anda lebih memaknai kehidupan ini dengan aktivitas yang produktif dan lebih baik. Kepatuhan menjadi prinsip yang harus selalu ditanamkan saat seorang hamba menerima perintah Tuhannya. Dalam hal ini, Ibrahim dengan berani membicarakan perintah Tuhannya dalam mimpi itu langsung kepada putra kesayangannya, Ismail. Menyembelih Puteranya! Ibrahim mengungkapkan bahwa dia diperintah oleh Allah untuk menyembelih Ismail. Tanpa panjang pikir pun Ismail langsung menerima perintah itu dengan tegar dan sabar.
Saat itu Ismail sudah terbaring dengan ditutupi kain. Sebenarnya Ibrahim merasa sangat berat untuk menjalankan perintah ini. Namun tidak akan ada hikmah kecuali setelah perintah dari Allah dilaksanakan. Perintah itu dijalankan sebagai bentuk sikap patuh suatu keluarga. Sang ayah yang berani menyampaikan dan melakukan perintah Tuhan, dan sang anak yang menerima hal itu dengan tegar. Ya, kepatuhan itulah yang ditunjukan keluarga Ibrahim sebagai indikasi bahwa semua itu membutuhkan pengorbanan. Mengorbankan perasaan dan materi (anak) sebagai wujud bahwa perintah Tuhan harus ditaati.
Singkat cerita, Ibrahim mengangkat dan mengayunkan pedangnya. Prottt! Darah bertebar dimana-mana, namun rasanya bukan Ismail yang tersembelih. Dan ibrahim pun kaget bukan kepalang. Ismail yang awalnya ditutupi kain ternyata digantikan Kambing oleh Allah. Maka terujilah mentalitas Ibrahim dan Ismail sebagai keluarga yang menjadi teladan umat manusia. Bahwa tiada pengorbanan tanpa didasari kepatuhan.
Kisah inspiratif terkait ketaatan total dengan pengorbanan penuh ini tidak mudah untuk ditiru. Namun dapat kita awali dengan menanamkan dan mengaplikasikannya dengan rela meninggalkan kegiatan yang kurang produktif ke arah hal yang positif. Dari game ke membaca buku. Dari facebook ke holybook, dari poker dan twitter ke jamaah witier, dan dari jajan ke shadaqah. Bukankah itu semua pengorbanan? Pengorbanan meninggalkan kebiasan lama yang berkualitas rendah, menuju kemajuan produktif. Coba anda tanya diri anda sendiri? Berapa ayat yang sudah anda baca dan fahami hari ini? Seringkah anda rukuk untuk tahajud dan witir? Atau berapa buku yang sudah anda baca? Apalagi jika anda bertanya, berapa shadaqahmu tiap hari?
Selain itu, makna kesatuan dapat pula kita peroleh dalam realita ibadah Haji yang setiap tahun dilakukan dalam bulan Dzulhijah ini. Tanpa mengenal batas negara, bangsa, suku dan kulit, umat muslim berkumpul dalam satu tujuan. Ridha Allah. Hal ini menyadarkan kita, bahwa alasan mereka berkumpul di Makkah dan Madinah hanyalah karena satu faktor saja, Agama Islam.
Maka dari itu, sudah seharusnya kegiatan Idul Qurban dan haji tidak hanya menjadi rutinitas tahunan semata. Namun sebaliknya, menjadi cara mengaktulisasikan bagaimana seharusnya umat islam dapat bersatu untuk mematuhi aturan Syariat dengan totalitas perjuangan sekuat tenaga

Kamis, 28 Maret 2013

imam syafi’I dimasa muda dan semangat juangnya



Imam asy-Syafii tumbuh di Gaza dalam keadaan yatim, setelah ayah beliau meninggal di sana.
Sehingga beliau hidup dalam keadaan fakir miskin dan yatim, serta jauh dari kerabat. Namun semua ini tidak berpengaruh buruk kepada beliau setelah Allah memberikan taufik kepada kemudahan untuk menempuh metode yang benar.
Setelah ibu beliau membawa beliau ke Mekkah atau daerah dekat Mekkah, beliau mulai menghafal al-Qur’an. Dikatakan bahwa beliau menyelesaikannya pada waktu berumur tujuh tahun.
Beliau mengisahkan dirinya: “Aku dulu hidup yatim dibawah pengasuhan ibuku. Dan ibuku tidak punya harta yang diberikan untuk seorang pengajar. Namun pengajar itu ridha dengan aku menggantikannya jika dia pergi. Setelah aku mengkhatamkan al-Qur’an, aku masuk masjid dan duduk di majlis-majlis ulama sampai aku menghafal satu hadits atau satu masalah. Dan rumah kami berada di Syi’b al-Khaif. Dulu aku mencatat ilmu di tulang, jika sudah banyak aku taruh di satu keranjang besar.” (Tawali at-Ta’sis 54)
Setelah beliau menghafal al-Qur’an di Makkah beliau suka dengan syair dan bahasa arab. Beliau bolak-balik ke suku Hudzail untuk menghafal syair-syair mereka dan bahasa mereka. Yang nampak beliau menghafal syair mereka pada awal usia beliau. Suku Hudzail ini termasuk bangsa arab yang paling fasih.
Kemudian beliau setelah itu mempelajari ilmu fiqih, karena satu sebab. Ada dua versi alasan mulainya Imam asy-Syafii mempelajari ilmu fiqih:
  1. Mush’ab bin Abdillah az-Zubairi mengisahkan seorang sekretaris Bapak Mush’ab bin Abdillah az-Zubairi berkata kepada Imam asy-Syafii: “Orang seperti kamu pergi dengan muruahnya dalam bidang ini. Dimana posisimu dalam masalah fiqih.” Hal itu mendorong Imam asy-Syafii. Sehingga beliau pergi menuju Muslim bin Khalid Az-Zinji Mufti Makkah waktu itu dan belajar kepadanya, kemudian mendatangi Imam Malik di Madinah.” (Manaqib karya Al-Baihaqi 1/97)
  2. Diriwayatkan orang yang mengarahkan beliau untuk mempelajari ilmu fiqih adalah guru beliau Muslim bin Khalid az-Zinji. Imam Baihaqi meriwayatkan Imam asy-Syafii mengisahkan beliau sendiri: “Aku keluar mempelajari ilmu nahwu dan adab. Kemudian aku bertemu dengan Muslim bin Khalid az-Zinji, dia berkata: ‘Wahai anak muda, engkau berasal dari mana?’ Aku menjawab: ‘Dari penduduk Makkah.’ Dia bertanya: ‘Dimana rumahmu di sana?’ Aku menjawab: ‘Di Syi’b al-Khaif.’ Dia bertanya lagi: ‘Dari kabilah apa engkau ini.’ Aku menjawab: ‘Dari keturunan Abdu Manaf.’ Dia berkata: ‘Wah wah, Allah telah memuliakanmu di dunia dan akhirat, tidakah engkau menjadikan pemahamanmu ini untuk ilmu fiqih. Dan itu lebih baik untukmu’.” (Manaqib karya Al-Baihaqi 1/97)
Sebab manapun yang menjadikan beliau seperti itu, maka ini menunjukkan bahwa Imam asy-Syafii rahimahullah setelah menghafal al-Qur’an melakukan perjalanan ke suku Hudzail di pinggiran Makkah kemudian setelah menghafal syair-syair mereka dan bahasa mereka, himmah beliau berubah kepada ilmu fiqih. Beliau berguru kepada Mufti Makkah Muslim bin Khalid az-Zinji. Setelah mapan beliau mengadakan perjalanannya yang pertama ke Madinah.
Beliau tekun dalam menuntut ilmu dan menghafal al-Qur’an pada umur tujuh tahun, dan menghafal kitab al-Muwatha’ karya Imam Malik pada umur sepuluh tahun. Beliau mulai berfatwa pada umur lima belas tahun –ada yang berkata: delapan belas tahun- dengan ijin dari guru beliau Muslim bin Khalid az-Zinji. Beliau perhatian dengan syair dan bahasa. Beliau menghafal syair al-Hudzaliyyin dan tinggal di antara mereka sekitar sepuluh tahun, dikatakan: dua puluh tahun. Beliau mempelajari bahasa arab dan kefasihan dari mereka. Beliau mendengar banyak hadits dari sekumpulan guru dan para imama. Beliau membacakan al-Muwatha kepada Imam Malik dari hafalannya, sehingga Imam Malik pun kagum atas bacaan dan himmahnya. Kemudian Imam asy-Syafii mengambil ilmu dari ulama hijaz setelah beliau mengambil ilmu dari Muslim bin Khalid az-Zinji. Beliau meriwayatkan dari banyak guru. Beliau mempelajari al-Qur’an kepada Ismail bin Qusthanthin dari Syibl  dari Ibnu Katsir dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas dari Ubai bin Ka’b dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (al-Bidayah wa an-Nihayah 1/263)

Sabtu, 23 Maret 2013

STUDY KOMPARASI PENDIDIKAN INDONESIA DAN YAMAN


                                  

Oleh.
MOH.MUSTHOFA

1. Sistem Pendidikan di Indonesia
Makna Pendidikan di Indonesia adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana BELAJAR dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Adapaun Filosofi pendidikan di Indonesia adalah Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.
Sistem pendidikan di Indonesia disebut dengan sistem pendidikan nasional yang mempunyai arti keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Sistem pendidikan nasional terbagi menjadi tiga (3) bagian;
1.  Kelembagaan yang terdiri dari jenjang pendidikan dan jalur pendidikan.
2.  Jenis Pendidikan yang terdiri dari Umum, kejuruan, vokasional, dan lain-lain.
3. Kurikulum. Sesuai dengan UU yang telah ditetapkan pendidikan Indonesia sekarang memakai kurikulum KTSP (kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
2. 2. 1. Jenjang pendidikan
Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Adapun macam-macamnya sebagai berikut:
a. Pendidikan anak usia dini
Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
b. Pendidikan dasar
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
c. Pendidikan menengah
Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar.
d. Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doctor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.
2. 2. 2. Jalur pendidikan
Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Adapun macam-macamnya sebagai berikut:
a. Pendidikan formal
Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.
b. Pendidikan nonformal
Pendidikan ini paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap masjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.
Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya.
c. Pendidikan informal
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.
2. 2. 3. Jenis pendidikan
Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. Adapun macam-macamnya sebagai berikut:
a. Pendidikan umum
Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah ke Atas (SMA).
b. Pendidikan kejuruan
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
c. Pendidikan akademik
Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program Sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.
d. Pendidikan profesi
Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang Profesional.
e. Pendidikan vokasi
Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).
f. Pendidikan keagamaan
Pendidikan Keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.
g. Pendidikan khusus
Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).
2. 2. 4. Kurikulum Di Indonesia
Kurikulum yang dipakai sekarang adalah KTSP (Kurikulum Tingkat satuan pendidikan) adapaun maknanya adalah sebuah KURIKULUMoperasional PENDIDIKAN yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan olehUU  tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PERATURAN PEMERINTAH INDONESIA NO 19 TAHUN 2005 tentang STANDART NASIONAL PENDIDIKAN. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai t dengan mengacu pada STANDAR ISI (SI) dan STANDART KOMPETENSI KELULUSAN (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh bnsp.
Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Walaupun penyusunan kurikulum sudah diberikan sepenuhnya kepada pihak sekolah disini masih harus memperhatikan hal-hal yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
a. peningkatan iman dan taqwa
b. peningkatan ahlaq mulia
c. peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peerta didik
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan.
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional
f. tuntunan dunia kerja
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
h. agama
i. dinamika perkembangan global
j. persatuan nasional dan  nilai-nilai kebangsaan.

2. Sistem Pendidikan di Yaman
Sejak dulu, Yaman dikenal sebagai negeri tempat menuntut ilmu agama, tepatnya di kota Hadramaut. Dari kota itu, dakwah Islam disiarkan ke berbagai negara tak terkecuali Indonesia. Sebut saja, misalnya delapan dari sembilan ulama yang terkenal dengan sebutan Wali Songo, ternyata menurut sebagian kalangan berasal dari Yaman. Begitu juga tokoh pendiri Lembaga Pendidikan Al Khairaat di kawasan Indonesia Timur, Habib Jufri, juga merupakan ulama terkemuka asal Yaman.
Di Yaman memang banyak tersebar madrasah-madrasah atau lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola swasta yang secara khusus menekankan pendidikan agama Islam. Lebih khusus, menurut Habib Umar Al Hafidz, ulama terkemuka negeri ini, pengajaran Alquran baik untuk bidang qiraat maupun hafalan sangat maju di negara ini. Mereka umumnya sudah eksis paling tidak sejak 600 tahun yang lalu, ujar Habib Umar al Hafidz ketika ditemui Republika usai berceramah di Pesantren As-Shidiqiyah Batuceper, Tangerang, Ahad (3/2).
Pusat pengajaran Islam itu kini tersebar di kota Tarim dan beberapa kota lain dengan jumlah santri ribuan orang. Mereka tak hanya datang dari Timur Tengah, tapi juga dari Asia, Afrika, bahkan Eropa dan Amerika. Di Kota Tarim sendiri, terdapat lembaga pendidikan ternama, Daarul Musthafa. Lembaga ini memiliki tiga tujuan. Pertama, berusaha mengajarkan ilmu sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kedua, mendidik akhlak dan mensucikan hati serta tujuan yang ketiga adalah mengajarkan tawadu’ dan tunduk semata kepada Allah SWT.
“Yang terpenting dari sistem pendidikan di lembaga ini adalah sesuainya perilaku dengan apa yang diucapkan oleh para santri. Yang menarik, para santri yang belajar di Daarul Musthafa lebih banyak datang dari luar negeri. Dari Indonesia, tak kurang dari 200 orang menuntut ilmu di sini. Setelah selesai belajar sekitar empat tahun, para santri ini biasanya kembali ke negara masing-masing untuk menyebarkan ilmu yang telah mereka miliki.
Di lembaga ini, mereka tidak secara khusus menghafal Alquran. ”Tapi, bagi mereka yang ingin mendalami hafalan Alquran, bisa mengambil satu jurusan tersendiri. Untuk jurusan Syariah misalnya, mereka sedikitnya harus menghafal tiga juz Alquran. Tapi, bagi yang ingin total menghafal Alquran bisa menghambil program khusus.
Sesuai dengan apa yang menjadi perhatian Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya mempelajari ilmu, mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain, maka semangat ini pun yang dikembangkan oleh umat Islam di Yaman. Mereka sangat menekankan, apa yang dipelajari seorang santri, hendaknya mampu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta mengajarkannya kepada orang lain.
Karena pemahaman ini, dalam masyarakat Muslim Yaman, timbul semangat untuk mengamalkan ilmu mereka dan menyebarkan kepada orang lain ajaran agama Islam yang mereka pahami. Penyebaran ilmu tersebut sampai ke luar Yaman termasuk ke Indonesia seperti yang dilakukan para ulama salaf Yaman pada zaman dulu.
Jejak sejarah Islam masih kental ditemui di Hadramaut. Di wilayah ini, seluruh penduduk aslinya beragama Islam. Penduduk Hadramaut terdiri dari empat golongan utama, yaitu golongan sayid (keturunan Nabi Muhammad SAW), golongan suku-suku, golongan menengah, dan sekolah budak. Golongan sayid dianggap kelas paling atas, karena keturunan langsung Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu nabi Muhammad SAW. Mereka bergelar habib dan habibah(perempuan).
Di Hadramaut terdapat tempat suci umat Islam, yaitu Qabr Hud, atau makam Nabi Hud AS. Di dekat makam itu ada sebuah masjid yang ramai dikunjungi para peziarah, khususnya setiap tanggal 11 Syakban. Tempat suci lainnya adalah makam Nabi Saleh AS di lembah Sarr. (dam/republika)