Pages

Kamis, 13 Juni 2013

madrasah ghozaliyah syafiiyah sarang (jawa tengah)

Mgs
Sejarah bukanlah suatu cerita yang sudah usang yang ditinggalkan karena tertinggal zaman, namun sejarah adalah prasasti yang sangat penting dalam suatu perjuangan sekaligus satu nilai besar dari sebuah perjuangan yang menjadi cermin bagi kita ( generasi ) untuk meneladani semangat juangnya bukan hanya untuk dikenang bahkan untuk dteruskan perjuangannya.
            Begitu pula Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah ( MGS ) Ponpes Karangmangu Sarang Rembang yang telah berdiri pada tahun 1353 H./1934 M. ini juga telah melewati lika-liku perjuangan panjang nan melelahkan dalam sejarahnya yang pada saat itu MGS belum


mempunyai tanah yang pasti untuk cikal bakal berdirinya bangunan Madrasah, pada tahun 50-an tanah KH. Syu’aib yang telah diberikan kepada putranya KH. Ahmad dijadikan tempat  awal mula berdirinya Madrasah, Kemudian tanah tersebut diwaqafkan oleh KH.Abdurrochim Ahmad dan  pada tanggal 01 April 2000 M Ikrar wakaf dilaksanakan (sekarang tanah tersebut sudah bersertifikat tanah Wakaf). Serta sekaligus beliaulah yang menjabat sebagai ketua Nadzir yang pertama kemudian digantikan oleh KH. Maimoen zubair setelah KH. Abdurrochim Ahmad wafat pada tanggal 7 Desember 2001 M.
            Diawali dari berdirinya pondok pesantren Sarang “MA’HAD ILMI Al MUTTAHIDAH” (MIM) namun tempatnya masih terpisah-pisah di sekitar Sarang yang kemudian berkembang dengan pesat serta tuntutan keadaan dan cita-cita mulia untuk mendidik para santri supaya lebih mendalami ilmu agama, maka didirikanlah Madrasah dengan nama “NAHDLOTUL WATHON” bertempat di kompleks yang sekarang bernama Ponpes MIS dan dipelopori oleh dua menantu KH. Ahmad bin Syu’aib yaitu KH. Ridlwan ( Bangilan Tuban, ayah KH. Abdul Fattah ) dan KH. Zubair Dahlan (ayah KH. Maimoen Zubair) dengan sistem klasikal dengan dibantu oleh beberapa ustadz dari santri-santri senior, diantara para ustadz yang pertama mengajar adalah : KH. Fahrurrozi Almaghfurlah (Tuban), Ust. Hisyam Almaghfurlah ( Beji Jenu ), Ust. Ach. Syakur Almaghfurlah, Ust. Ahmad Amin Almaghfurlah (Jenu Tuban). Namun Madrasah hanya bertahan selama 6 tahun. Pada tahun 1930-an.
            Sekembalinya KH. Abdus Salam ( Putra KH. Fathur Rohman ) nyantri dari Tebuireng beliau merintis kembali Madrasah Nahdlotul Wathon yang pernah berdiri dengan dibantu oleh Ustadz Afandy (Jatirogo Tuban) dan Ust. Mukri (Jepara) yaitu pada tahun 1359 H. / 1940 M. Dua tahun kemudian Beliau KH. Abd. Salam belajar ke Makkah setelah dinikahkan dengan Nyai.Hj Mahmadah (Ibunda KH. MA. Ainul Yaqin) dan wafat disana (Allohummarhamhu), saat itu bertepatan dengan penguasan Jepang pada negara Indonesia, Beberapa tahun kemudian setelah Wafatnya KH. Abd. Salam, Nyai.Hj Mahmadah menikah lagi dengan KH. A. Zubaidi ( asli Karas, Sedan) kemudian menetap di Tuban tepatnya di kediaman Mertuanya (KH. Utsman) setelah dijodohkan oleh KH. Ahmad, pada saat penguasaan Jepang Madrasah kembali meredup dan berhenti setelah berjalan selama 3 tahun. 
            Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 10 Muharrom ( hari ‘Asyuro’ ) tahun 1369 H./1950 M. madrasah didirikan kembali, Adapun tempat sementara sebagai perintisan yaitu berada di Masjid Ponpes Karangmangu Sarang Rembang, sampai pada kuantitas yang mencapai 6 (enam) kelas sehingga membutuhkan ruangan yang mampu untuk menampung dengan kapasitas lebih banyak, kemudian untuk memenuhi hal tersebut, maka Madrasah berpindah di sebelah selatan jalan raya dan tepatnya barat ponpes MUS dengan dipelopori oleh KH. Ahmad bin Syu’aib dan KH. Ali Masyfu’ (Pendiri PP. Al-Amin), dan sebagai guru pertama: KH. Ali masyfu’ bin KH. Fathurrohman, KH. Zubair dahlan, K.H Fahrurrozi (Tuban) dan Ustad Masyhuri (Singgahan Tuban). Pada periode ini Madrasah diberi nama “MADRASAH GHOZALIYYAH SYAFI’IYYAH ( MGS )”.
            Pemberian nama “GHOZALIYYAH” adalah diambil dari nama pendiri Pondok Pesantren Sarang yaitu KH. Ahmad Ghozali bin Lanah Karangmangu Sarang (wafat pada tahun 1856 M.) untuk tabarrukan dan mengabadikan nama serta mengenang jasa dan perjuangan beliau. Sedangkan “SYAFIYYAH” adalah gambaran dari madrasah yang mengikuti Madzhab Syafi’I yaitu salah satu dari empat madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah.



SISTEM PENDIDIKAN MGS
MGS adalah Madrasah yang Independen ( berdiri sendiri ) tidak bernaung dibawah Departemen Agama atau lembaga lain. Dengan demikian Madrasah menentukan arahnya sesuai dengan ciri khas kesalafannya, menggunakan sistem pendidikan masuk sekolah setiap hari kecuali hari Jum’at, memakai kopyah, berbaju panjang, bersarung dan bersandal. Tahun ajaran dimulai pada bulan Syawwal sampai bulan Sya’ban, pada setiap tahun ajaran libur pada bulan Robi’ul Awwal.
            Adapun belajar Mengajar berlangsung pada pagi hari dengan sistem klasikal sesuai dengan tingkatannya masing-masing, Ibtida’ 4 tahun, Tsanawi dan Aliyyah masing-masing 3 tahun, dengan alokasi waktu belajar 3 jam pelajaran setiap hari, masing-masing 90 menit dengan fokus pada pelajaran agama, meliputi : Al-Qur’an, Al- Hadits, Ilmu Tafsir, Mustholah Hadits, Fiqih, Ushul Fiqh, Faro’idl, Tashowwuf, Arabic Grammer, seperti Nahwu, Shorof, Qowa’idus Shorfi, I’rob, I’lal, Balaghoh, ‘Arudl, Mantiq serta Falak. Kecuali pada tingkat Ibtida’ ditambah dengan pelajaran IPS, IPA, Hisab (Matematika), dan Khoth/Imla’.
            Musyawaroh adalah ciri khas tersendiri untuk mengasah kemampuan berpikir santri dengan materi pelajaran yang telah diajarkan, yang dilaksanakan pada malam hari untuk Tingkat Tsanawi dan Aliyyah dan sore hari untuk tingkat Ibtida’.
            Untuk mengukur keberhasilan belajar siswa diadakan ujian dengan tiga tahapan, ujian pertama (bulan Muharrom), pertengahan (bulan Robi’ul akhir) dan ujian akhir (bulan Rajab). Sebagai syarat untuk mengikuti ujian, Madrasah mempunyai aturan sendiri, yaitu Muhafadhoh fan pelajaran sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Adanya aturan ini karena MGS mengikuti jejak Salafus Sholih dalam menuntut ilmu dengan menghafal apa yang dipelajarinya.
Tenaga pengajar madrasah adalah para Masyayikh alumnus Timur Tengah dan alumni terbaik Madrasah yang kompeten dalam bidangnya masing-masing.
PERKEMBANGAN MADRASAH
1. Perkembangan fisik
            Semula Madrasah hanya memiliki beberapa bangunan saja, kemudian KH. Ahmad memberikan uang sebagai tindakan stimulatif untuk dibelikan tanah yang sebagiannya dibeli dari H. Mukri Sarang (termasuk orang kaya pada saat itu),  Namun karena banyaknya santri serta tuntutan perkembangan zaman maka Madrasah pun memenuhi tuntutan tersebut, dengan bukti bangunan-bangunan yang dimiliki sekarang sudah + 40 ruang belajar dengan kapasitas rata-rata 50 santri tiap ruang, satu kantor harian, dua ruang Masyayikh dan guru, kantor DEMU, Auditorium, Musholla serta kamar mandi, tempat wudlu’, WC, gudang dan ruang khodim, dengan berbagai macam bangunan, mulai yang sederhana sampai yang sekelas universitas.
2. Perkembangan non fisik
            Pada mulanya Madrasah sebatas pengajaran yang berbentuk klasikal belum ada tingkatan-tingkatan seperti saat ini. Setelah Madrasah mengalami kemajuan dengan bertambahnya siswa dan minat belajar yang tinggi, maka didirikan tingkat Tsanawiyyah pada tahun 1963 M. pada perkembangan berikutnya didirikan pula tingkat Aliyyah pada tahun 1976 M. yang kala itu siswa berjumlah 700 siswa. Dan pada tahun 2006 M. untuk menampung alumni MGS didirikan Ma’had ‘Aly Alghozaliy (MAG) dengan ditempuh dua tahun. Jumlah santri MGS ditambah MAG saat ini + 1.800 siswa. Dan sekarang dengan berbagai pertimbangan, diantaranya: sedikitnya minat santri untuk masuk (MAG), pembiayaan dll, kemudian(MAG) berpindah di PP. MUS Sarang
            Demikianlah sejarah berdirinya Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah (MGS), semoga ditengah gempuran globalisasi dan modernisasi, madrasah ini tetap eksis dan tetap mempertahankan kesalafannya. Amin ya Rabbal A’lamin.


0 komentar:

Posting Komentar