Pages

Senin, 01 April 2013

Resensi Kitab TadzhibUL Kamal Fi Asma' alRijal syeh jamal syiria




Judul Kitab : Tadzhib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal.

Penulis : Jamal al-Din Abi al-Hajjaj Yusuf Ibn al-Zaki al-Mizzi (654-742 H).

Muhaqqiq : Dr. Basyar ‘Awwad Ma’ruf

Penerbit : Beirut, Muassasat al-Risalah (cetakan ke 2, 1983 M/1403 H). Jumlah Jilid : 35 Jilid.

A. Biografi Penulis.

Beliau adalah al-Hafizh Jamal al-Din Abu al-Hajjaj Yusuf Ibn al-Zaki Abd al-Rahman bin Yusuf bin Ali bin Abd al-Mulk bin Ali bin Abi al-Zuhr al-Kalbi al-Kudha’i al-Mizzi pada malam tanggal 10 rabiul Akhir 654 H dari kabilah Arab yang menetap di Negeri Syam pada masa pemerintahan Daulah Ayyubiyah. Kemudian ia pindah ke Damaskus, ia menetap di Mizzah di tengah perkebunan Damaskus sebelah barat daya. Di sana terdapat makam sahabat Dihyah bin Khalifah bin Farwal al-Kalbi al-Kudla’i. [1] Basyar ‘Awwad Ma’ruf, Muqaddimah Tadzhib al-Kamal, (Beirut, Mussasat al-Risalah, cetakan ke-2, 1983), 13-14.

Al-Mizzi pertama kali belajar pada tahun 675 H. (pada usia 21 tahun). Menurut al-Dzahabi ayah al-Mizzi Syaikh Zaki al-Din ‘Abd al-Rahman adalah seorang ulama yang hafal Alquran (al-‘Alim al-Muqri’), hanya saja tidak ada yang menulis biografinya. [1] Ibid, 14. Al-Mizzi kali pertama belajar hadits Zain al-Din Abi al-Abbas Ahmad bin Abi al-Khair Salamah bin Ibrahim al-Dimasyqi al-Haddad al-Hambali (589-678 H). [2] Ibid, 15.

Dari syeikh Ahmad bin Abi al-Khair, al-Mizzi belajar kitab al-Hilyah karya Abu Nu’aim dan banyak lagi darinya al-Mizzi mendapatkan kedudukan ilmu yang tinggi sehingga riwayat sejumlah ulama yang tsiqah darinya, antara lain: Saraf al-Din al-Dimyathi, Ibn al-Hulwaniyah, Ibn al-Khabbaz, Ibn al-‘Aththar, Ibn Taymiyah, al-Birzaly dan banyak lagi selain dari mereka. Bahkan Ibn Hajib pernah belajar darinya di Arafah pada tahun 620 H. [3] Ibid, 15-16.

Sejak saat itu al-Mizzi mengarahkan cita-citanya untuk belajar Hadits. Maka ia banyak mengaji kitab-kitab pokok yang besar seperti al-kutub al-sittah, musnad al-Imam Ahmad, al-Mu’jam al-Kabir karya Abi al-Qasim al-Thabrani, Tarikh Madinah al-Salam karya al-Khathib al-Baghdadi, Kitab al-Nasb karya Zubair bin Bakkar, al-Sirah karya ibn Hisyam, Muwaththa’ al-Imam Malik, al-Sunan al-Kabir, Dalail al-Nubuwah karya al-Baihaqy.

Kemudian al-Mizzi mengembara di kota-kota negeri Syam. Ia pernah belajar di al-Quds al-Syarif (Yerussalem), Himsha, Himah, dan Ba’albakk. Sesudah itu ia menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah dan Madinah. Setelah itu ia pergi ke negeri-negeri Mesir. Ia belajar di Kairo, Alexandria, dan Bilbis sampai pada tahun 683 H. Di Alexandria ia belajar kepada Shadr al-Din Sahnun (w.695 H) sampai pada tahun 684 H. [4] Ibid, 16.

Al-Mizzi sakit pada awal-awal bulan Shafar tahun 742 selama bebe-rapa hari. Sakitnya mula-mula ringan saja, sehingga tidak menghalanginya, memberikan pelajaran, dan mengajarkan hadits (juz ke-3 Tadzhib al-Kamal) pada hari kamis 10 Shafar 742 H. Pada hari Sabtu tanggal 12 Shafar 742 H beliau wafat, dan dimakamkan di samping makam isterinya ‘Aisyah bint Ibrahim bin Shadiq yang meninggal sembilan bulan sebelumnya, di sebelah barat makam Ibn Taimiyah. Di antara putranya yang terkenal adalah ‘Abd al-Rahman bin Yusuf (687-749 H). [5] Ibid, 34-36.

Banyak dari para sejarawan (muarrikhun) belajar dari al-Mizzi. Mereka kemudian membuat biografi al-Mizzi dengan versi yang tidak sama panjang pendeknya, macam-macam pengetahuan yang diajarakan olehnya. Kami menemukan sebuah kesimpulan tentang bagaimana ia menuntut ilmu, murid-muridnya, murid-murid dari mereka dan begitu seterusnya.

Di antara ulama yang berguru kepada al-Mizzi adalah Ibn Taimiyah (w.728 H), Ibn Sayyid al-Nas al-Ya’mary (w. 734 H), Syams al-Din al-Dzahaby (w. 748 H), Taqiy al-Din al-Subki (w. 756 H), ‘Alam al-Din al-Birzaly (w. 739 H), Abu ‘Abd Allah bin ‘Abd al-Hadi (w. 744 H), Shalah al-Din Khalil bin Kaikaldi al-‘Alai (w. 761 H), ‘Ala’ al-Din Mughulthay al-Hanafi (w. 762 H), Ibn Rafi’ al-Salami (w. 774 H), ‘Imad al-Din Ibn Katsir (w. 774 H). [6] Ibid, 30.

Ulama satu masa dengan al-Mizzi yang telah menulis biografinya: Ibn Sayyid al-Nas al-Ya’mari (w. 734 H), Alamuddin al-Birzali (w. 739 H), Syamsuddin adz-Dahabi (w. 748 H), Ibn-al-Wardi (W. 749 H), Shalahuddin al-Shifdi (W. 764 H), Ibn Syakir al-Kutubi (w. 764 H), Syamsuddin al-Husaini (w. 765 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Taqiyuddin Ibn Rafi’ al-Salami (w. 774 H), dan Imad al-Din Ibn Kasir (w. 774 H). [7] Ibid, 9-10.

Di samping itu ada juga segolongan ulama setelah al-Mizzi yang menulis biografinya, antara lain Ibn Nashr al-Din al-dimasqi (w. 842 H), al-Maqrizi (w. 845 H), Ibn Qdhi Syuhbah (w. 851 H), Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H), Ibn Taghri Bardi (w. 874 H), al-Sakhawi (w. 902 H), al-Suyuti (w. 911), al-Nuaimi (927 H), Ibn Thulun (w. 953 H), Thasy Kubra Zadah (w. 967 H), Ibn Hidayat Allah al-Mushannif (w. 1014 H), Ibn al-‘Imad al-Hambali (w. 1089 H), al-Syaukani (w. 1250 H). [1] Ibid, 10.

Pada umumnya salah seorang dari mereka tidakalah menukil dari lainnya. Akan tetapi kami menemukan mayoritas biografi yang ditulis hal-hal yang bagus dan kemanfaatan adalah biografi yang ditulis oleh al-Dzahabi, al-Shifdi, al-Subki, Ibn Kasir dan Ibn Hajar karena mencakup pengetahuan.

Al-Mizzi pernah bertemu dan bersahabat dengan tiga orang guru besar (Syaikh) pada zaman itu. Mereka adalah Syaikh al-Islam Taqi al-Din Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Abd al-Halim yang terkenal dengan Ibn Taimiyah al-Harani (661-728 H), ‘Alam al-Din Abu Muhammad al-Qasim bin Muhammad al-Birzali (665-739 H), dan Syamsu al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi (673-748). Al-Mizzi adalah yang tertua dari mereka. Mereka saling bertukar ilmu (share) sama lain. [8] Ibid, 18.

B. Kiprah penulis dalam keilmuan utamanya ulumul hadits.

Al-Mizzi pernah menjadi pemimpin lembaga pendidikan Hadits terbesar di Damaskus yaitu Dar al-Hadits al-Asyrafiyah pada hari Kamis 23 Dzi al-Hijjah 718 H. Lembaga tersebut juga pernah dipimpin oleh ulama ahli Hadits, diantaranya Taqi al-Din Ibn al-Shalah (577-643 H), Ibn al-Harastani (557-662 H), Abu Syamah (559-665 H), Muhyi al-Din al-Nawawi (631-676 H) dan lain-lain. [1] Ibid, 26-27.

Di samping itu, al-Mizzi juga mengajar di lembaga pendidikan Dar al-Hadits al-Himshiyah yang dikenal dengan nama Halaqah Shahib Himsha. Dan pada tahun 739 H al-Mizzi menjadi pimpinan lembaga pendidikan Hadits termaju di Damaskus yakni Dar al-Hadits al-Nuriyah, sampai ia wafat. Beliau menjadi ahli hadits selama 50 tahun lebih. Sedikit sekali ahli ilmu di Damaskus yang tidak berguru kepadanya. Menurut al-Dzahabi, pada umum-nya para ahli Hadits di Damaskus berguru kepadanya, dan mengakui akan keutamaannya.

Al-Mizzi mempunyai tempat yang agung diantara ulama Abad ke 8 H dalam hadits, ulum al-Hadits dan ilmu yang berhubungan demgan keduanya kemashurannya semakin tegak di atas 2 kitab besar yang ditulisnya dalam fan hadits dan ulum al-hadits yaitu tuhfat al-Asyraf dan Tahdzib al-Kamal.

Kitab Tuhfah al-Asyraf bi Ma’rifah al-Athraf terbilang sebagai kitab terbesar yang ditulis dalam al-Kutub al-Sittah. Sistematika kitab ini menghimpun biografi nama-nama sahabat, tabi’in yang terdiri dari 1.395 musnad dengan 995 hadits musnad yang dinisbatkan pada sahabat setelah mengurutkan nama-nama mereka berdasarkan urutan Mu’jam dan 400 hadits mursal yang dinisbatkan pemimpin tabi’in dan generasi setelahnya dengan urutan nama-nama sesuai huruf-huruf Mu’jam.

Kitab al-Asyraf selanjutnya diringkas oleh Abu al-Abbas Ahmad bin Sa’ad bin Muhammad al-Darasi (w. 750 H) dan dinamai al-Umdah fi Mukhtashar al-‘Atraf. Kitab terbesar al-Mizi yang kedua adalah kitab Tadzhib al-Kamal ini. Kitab ini dianggap sebagai kitab terbesar dalam ilmu Rijal al-Hadits, dan sampai sekarang belum ada seorang pun yang dapat menulis kitab yang lebih baik dari kitab ini.

Kitab ini mulai ditulis pada tahun 705 H dan baru dipresentasikan satu tahun kemudian yaitu tahun 706 H. Al-Mizzi menyelesaikan kitab al-Kamal pada 712 H (selama 12 tahun), tertulis dalam 14 jilid. Sampai pada tahun 742, karya al-Mizzi ini telah dipresentasikan sebanyak lima kali. Kitab-kitab lain karya al-Mizzi antara lain:

- Muqaddimah Shahih Muslim.

- Kitab al-Marasil Abi Daud.

- Kitab al-‘Ilal al-Turmudzi.

- Kitab al-Sama’il al-Tirmidzi.

- Kitab ‘Amal Yaum wa Lailah Nasa’i.


Komentar para ulama tentang Abu al-Hajjaj al-Mizzi.

P Di Damaskus saya menemukan dari ahli ilmu (ilmuan) seorang al-hafizh yang mengungguli orang-orang setelahnya dan orang-orang yang mendahuluinya ia adalah Abu al-Hajjaj al-Mizzi. (Ibn Sayyid al-Nas al-Ya’mari, w.734 H).

P Al-Mizzi adalah penutup para penghafal hadits, kritikus sanad-sanad dan lafazh-lafazh hadits. Ia adalah orang yang menjadi tempat pengaduan dilemma-dilema dan memberikan penjelasan tentang problema-problema. Saya belum pernah melihat seseorang dalam kedudukan ini yang lebih akomodatif dari pada imam Abi Hajjaj al-Mizzi. (al-Dzahabi, w.748 H).

P Saya tidak pernah melihat pada guru-guru saya setelah al-Mizzi orang yang seperti dia dalam hal bahasa Arab. (al-Shalah al-Shifdi, w 764 H).

P Beliau adalah imam para ahli hadits (al-muhadditsin). Demi Allah jika saja al-Daruquthni masih hidup, maka ia akan merasa segan untuk mengajar di tempat al-Mizzi. (Taqi al-Din al-Subki, w. 756 H). [1] Ibid, ….

P Guru kami, panutan kami adalah syeikh Jamal al-Din al-Abu al-Haj al-Mizzi, penghafal hadits di zaman kami dan pembawa panji-panji ahlussunnah wal-jama’ah. (al-Taj al-Subki, w. 771 H). [1] Ibid, 30-34.



C. Sistematika Penulisan Kitab.

Orang yang pertama kali menulis kitab tentang guru-guru penulis al-Kutub al-Sittah adalah al-Hafizh al-Syam Abi al-Qasim Ibn ‘Asakir (499-571 H) dalam kitabnya “al-Mu’jam al-Musytamil ‘ala Dzikri Asma’ Syuyukh al-Aimmah al-Nabil”. Kitab ini menggunakan sistematika sebagai berikut:

1. Meringkas atas guru-guru penulis kutub al-Sittah,

2. Mengurutkan para penulis berdasarkan urutan mu’jam, memulai dengan nama Ahmad,

3. Menulis biografi guru-guru penulis al-kutub al-sittah secara ringkas dengan hanya menyebutkan nama dan kebangsaannya, dan mencantumkan dengan kejadian penting yang menyertainya.

4. Membuat kode-kode untuk penulis al-kutub al-sittah sebagai berikut: (kha’)= al-Bukhari, (mim)= Muslim, (ta’)= Tirmidzi, (nun)= Nasai, dan (qaf)= Ibn Majah al-Qazwini.

Setelah itu al-Hafizh Abu Muhammad ‘Abd al-Ghani bin ‘Abd al-Wahid al-Maqdisi al-Jama’ili al-Hanbali (544-600) menulis kita al-Kamal fi Asma’ al-Rijal yang menuliskan tentang para perawi al-kutub al-sittah. Al-Hafizh ‘Abd al-Ghani tidak meringkas pada guru-guru penulis al-Kutub al-Sittah, akan tetapi menyebutkan seluruh perawi dari kalangan sahabat, tabi’in, atba’ al-Tabi’in sampai pada guru-guru penulis al-Kutub al-Sittah yang tercantum di dalamnya.

Sistematika dalam kitab al-Kamal adalah sebagai berikut:

1. Menyebutkan seluruh perawi yang tercantum dalam al-Kutub al-Sittah.

2. Menjelaskan kondisi-kondisi para perawi.

3. Menggunakan ungkapan yang menunjukkan adanya perawi dalam al-Kutub al-Sittah atau sebagiannya, misalnya rawa lahu al-jama’ah, jika tercantum dalam al-Kutub al-Sittah, ittafaqa ‘alaih atau muttafaq ‘alaih jika termasuk perawi yang dikeluakan haditsnya oleh al-Bukhary dan Muslim dalam Shahihain. Sedangkan untuk selainnya dengan penyebutan nama.

4. Memulai kitabnya dengan Sejarah Nabi Muhammad SAW secara singkat yang diambil dari kitab al-Sirah karya Ibn Hisyam dalam satu halaman saja. Dilanjutkan dengan satu pasal tentang pendapat para imam mengenai kondisi-kondisi para perawi sampai delapan halaman.

5. Memisahkan para sahabat dari perawi yang lain dengan menempat-kan mereka di awal kitab dan memulai dengan sepuluh orang sahabat yang di-jamin masuk surga. Memisahkan perawi laki-laki dari perawi wanita, menuliskan perawi pria terlebih dahulu, kemudian perawi wanita. Sedangkan para perawi selainnya diurutkan berdasarkan huruf-huruf al-Mu’jam dan dimulai dengan nama “Muhammad”.

Al-Hafizh Jamal al-Din al-Mizzi mempelajari kitab al-Kamal karya al-Hafizh Abd al-Ghani. Ia menemukan di dalamnya kekurangan-kekurangan pada kebanyakan nama-nama hingga mencapai ratusan jumlahnya. Ia kemudi-an memutuskan untuk menyusun kitab baru yang didasarkan pada nama-nama perawi dalam kitab al-Kamal.

Kitab baru ini dinamakan Tadzhib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal. Al-Mizzi memulai penulisan kitabnya pada tanggal 9 Muharram 705 H dan selesai pada hari raya Adha 712 (selama tujuh tahun). Sebagian ulama mempunyai salah persepsi bahwa al-Mizzi hanya meringkas kitab al-Kamal karya Abd al-Ghani ketika menulis kitab Tadzhib al-Kamal.

Seolah-olah mereka menghubung-hubungkan dua kalimat al-Ikhtishar dan al-Tadzhib dengan asumsi bahwa al-Tadzhib mengindikasikan adanya perbaikan. Sebenarnya al-Mizzi telah melampaui kitab al-Kamal yang men-jadikannya tidak terkait dengan kitab tersebut, baik isinya, susunannya atau-pun bentuknya. Jadi Kitab al-Tadzhib bukanlah ringkasan kitab al-Kamal.

Keunggulan-keunggulan kitab al-Tadzhib dari al-Kamal antar lain:

a. Abd al-Ghani meringkas kitab al-Kamal pada para perawi al-Kutub al-Sittah. Kemudian al-Mizzi menambahkan perawi-perawi yang terlewat-kan, dan membuang sebagian perawi yang tidak memenuhi kritertia sebagai berikut:

1). Al-Bukhari:

a). Kitab al-qiraah khalf al-imam.

b). Kitab raf’ al-yadain fi al-shalat.

c). Kitab al-adab al-mufrad.

d). Kitab khalq af’al al-‘ibad.

e). Ma istasyhada bihi fi al-shahihain ta’liqan.

2). Muslim:

f). Muqaddimah kitabihi al-shahih.

3). Abu Dawud:

g). Kitab al-marasil.

h). Kitab al-radd ‘ala ahl al-qadr.

i). Kitab al-nasikh wa al-mansukh.

j). Kitab al-tafarrud (wahuwa ma tafarrada bihi ahl al-mashar min al-sunan).

k). Kitab fadlail al-anshar.

l). Kitab masail al-imam Ahmad (wahiya al-masail allati saala ‘anha aba ‘abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal).

m). Kitab musnad hadits Malik bin Anas.

4). Al-Tirmidzi:

n). Kitab al-syamail.

5). Al-Nasai:

o). Kitab ‘amali yaum wa lailah.

p). Kitab khashaish Amir al-mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radliyallah ‘anhu.

q). Kitab musnad ‘Ali radliyallah ‘anh.

r). Kitab musnad hadits Malik bin Anas.

6). Ibn Majah al-Qazwini:

s). Kitab al-tafsir.

Dengan hal tersebut al-Mizzi menambahkan biografi perawi dari kitab al-Kamal lebih dari 1.700 biografi.

b. Al-Mizzi menyebutkan sejumlah biografi untuk membedakan, yaitu biografi-biografi yang sesuai dengan al-Kitab al-Sittah dalam nama dan tingkatannya.

c. Al-Mizzi menambahkan kebnyakan biografi asal pokok-pokok sejarah yang baru tentang guru dari pemilik biografi tersebut, perawi yang meriwayatkan darinya, atau wafatnya dan lain-lain.

d. Al-Mizzi menambahkan empat pasal penting pada akhir kitabnya yang tidak disebutkan oleh pengarang kitab al-Kamal, yaitu:

1). Fashl fi man isytahara bi al-nisbati ila abihi aw jaddihi aw ummihi aw ‘ammihi aw nahwi dzalik.

2). Fashl fi man isytahara bi al-nisbati ila qabilah aw baldah aw shina’ah aw nahwi dzalik.

3). Fashl fi man isytahara bi laqab aw nahwihi.

4). Fashl fi al-mubhamat.

e. Al-Mizzi merujuk pada sumber-sumber asli yang tidak dilakukan oleh pengarang kitab al-Kamal.

Tambahan-tambahan yang mendasar ini menjadikan kitab al-Tadzhib tiga kali lipat lebih besar. Al-Tadzhib memiliki 250 bagian hadits yang tertulis dalam 40 halaman. Secara keseluruhan al-Mizzi menyusun kitabnya dalam 10.000 halaman, tiap halaman terdiri dari 21 baris. Al-Mizzi menyusun kitabnya dengan susunan yang baru, baik bentuk-nya secara umum maupun pokok-pokok dari setiap biografi. Ia membuat susunan dalam sebagian kitabnya dengan susunan yang belum pernah di-lakukan sebelumnya.

Hal-hal yang membedakan al-Tadzhid dengan al-Kamal antara lain:

1). Pengarang al-Kamal memisahkan para sahabat dari para perawi yang lain. Ia menyebutkan para perawi laki-laki kemudian perawi perempuan dan perawi setelahnya. Sedangkan al-Mizzi menyebutkan semuanya dengan satu susunan. Ia mengurutkan semua perawi berdasarkan urutan al-Mu’jam pada nama-nama perawi, bapak-bapak mereka dan kakek-kakek mereka. Ia memulai dengan nama Ahmad pada huruf Alif dan memulai dengan nama Muhammad pada huruf mim. Hal ini juga ia lakukan dalam pasal-pasal tentang kunyah, nasab, dan laqab. Begitu juga dengan urutan nama para perawi wanita.

2). Al-Mizzi memindahkan nama-nama perawi sesuai kemasyhurannya.

3). Al-Mizzi membedakan nama-nama yang ia tambahkan dari biografi kitab al-Kamal dengan tanda yang berbeda. Ia menulis nama perawi dan nama ayah dari perawi tesebut.

4). Al-Mizzi mengulangi susunan biografi dari para guru dan para perawi setelah memberi banyak tambahan.

5). Al-Mizzi memberikan masing-masing pengarang kode yang meng-indikasikan sebanyak 27 kode. Enam untuk al-Ushul al-Sittah, 1 kode untuk yang disepakati dalam al-Kutub al-Sittah, 1 kode untuk yang disepakati pengarang kitab al-Sunan yang empat, dan 19 kode untuk kitab-kitab yang ditulis oleh penulis al-Kutub al-Sittah yang lain. Kode-kode ini ditulis di atas setiap nama pemilik biografi dengan warna hitam, karena penulisan nama-nama dengan warna merah.

Kitab al-Tadzhib karya al-Mizzi diringkas oleh beberapa ulama setelahnya. Ada empat kitab yang merupakan ringkasan dari kitab karya al-Mizzi tersebut, yaitu:

1. Tadzhib al-Tadzhib.

2. Al-Kasyif fi Ma’rifat man lah Riwayat fi al-Kutub al-Sittah.

3. Al-Mujarrad min Tahdzib al-Kamal.

4. Al-Muqtadlab min Tahdzib al-Kamal.



D. Point-point Penting dalam Tadzhib al-Kamal.

Jilid pertama, tentang sejarah singkat Nabi Muhammad S.A.W., nama-nama beliau, putra-putri beliau, haji dan umrah Nabi, khadim Nabi, budak-budak Nabi, hewan peliharaan dan kendaraan Nabi, sifat-sifat dan akhlaq Nabi. Pada akhir jilid ini dimulai penulisan nama-nama rijal al-hadits yang diurutkan berdasarkan urutan mu’jam serta dimulai dengan nama Ahmad.

Jilid ke-dua dan ke-tiga, berisi nama-nama perawi yang diawali dengan huruf alif seperti: Aban, Asma’, Isma’il, Ayyub dan lain-lain. Jilid ke-empat, nama-nama yang dimulai dengan huruf ba’, ta’, tsa’, jim seperti: Badzam, Bajalah, Bujair, Tuba’i, Tilb, Talid, Tsabit, Jaban, Jabir dan lain-lain. Jilid ke-lima, nama-nama yang dimulai dengan huruf jim, dan ha’ seperti: Ja’far, Ju’ail, Habs, Hatim, Hajib dan lain-lain. Jilid ke-enam dan ke-tujuh, nama-nama yang dimulai dengan huruf ha’, dimulai dengan nama Hussam, Hasan, Hafs, Hakam, Hammad dan lain-lain.

Jilid ke-delapan, nama-nama yang dimulai dengan huruf kha’, dal, dzal, seperti Kharijah, Khalid, Darim, Daud, Dzakwan, Dzuhail dan lain-lain. Jilid ke-sembilan, nama-nama yang dimulai dengan huruf ra’, dan zai, seperti: Rasyid, Rafi’, Zubair, Zuhairi, Zakariya dan lain-lain. Jilid ke-sepuluh, ke-sebelas dan ke-duabelas, nama-nama yang dimulai dengan huruf zai, sin, syin seperti: Zaid, Sahim, Sa’d, Sa’id, Sufyan, Sulaiman, Syuja’, Syu’aib, Syihab dan lain-lain.

Jilid ke-tiga belas, ke-empat belas, ke-lima belas, ke-enam belas, ke-tujuh belas, ke-delapan belas, ke-sembilan belas, ke-dua puluh, ke-dua puluh satu, ke-dua puluh dua, ke-dua puluh tiga, nama-nama yang dimulai dengan huruf shad, dladl, tha’, zha’, ‘ain, ghain, fa’, qaf, seperti: Shalih, Shafwan, al-Dlahhad, Dlamran, Toriq, Talhah, ‘Asim, ‘Amir, ‘Ubbad, ‘Abbas, ‘Abdullah, ‘Abdurrahman, ‘Abdul Aziz, ‘Ubaidillah, ‘Usman, ‘Atha’, ‘Ali, ‘Umar, ‘Amr, ‘Imran, ‘Isa, Ghani, al-Fadl, Fudlail, al-Qasim, Qatadah, dan lain-lain.

Jilid ke-dua puluh empat, nama-nama yang dimulai dengan huruf qaf, kaf, lam, seperti: Qa’is, Kasir, Ka’b, Luqman, Laits, dan lain-lain. Jilid ke-dua puluh lima, ke-dua puluh enam, ke-dua puluh tujuh, ke-dua puluh delapan, ke-dua puluh sembilan, dan ke-tiga puluh, nama-nama yang dimulai dengan huruf mim, dan nun seperti: Muhammad, Mus’ab, Musa, Maisah, Maimun, Nafi, Nashr, Nuh, Naufal, dan lain-lain.

Jilid ke-tiga puluh satu dan ke-tiga puluh dua, nama-nama yang di-mulai dengan huruf wawu, lam-alif, dan ya’, seperti: Washil, Waki’, al-Wahid, Wahb, Lahiq, Yasin, dan Yahya dan lain-lain. Jilid ke-tiga puluh tiga, kitab Kuna (nama-nama yang dimulai dengan Abb, Umm dan sejenisnya). Jilid ke-tiga puluh empat, nama-nama yang terkenal yang dinisbatkan pada nama qabilahnya. Jilid ketigapuluh lima, menjelaskan orang-orang yang tekenal yang dinisbatkan kepada Suku, Negeri, pekerjaan, dan gelar (laqab). Para perawi yang masih samar, perawi dari kalangan wanita dan kunyah perawi wanita. [wallohu a’lam]

0 komentar:

Poskan Komentar