Pages

Jumat, 19 April 2013

Resensi Kitab AlAsma' Wasshifat imam baihaqi

Judul Kitab      : Al-Asma'u Wa Al-Ashifat

Pengarang      : Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi
Tebal               : 512 Halaman
Penerbit           : Dar Ihya' Al-Turast Al-Araby

            Perang argument serial aqidah bukan barang baru dalam sejarah intelektual islam. ini terbukti dengan munculnya sejumlah aliran dalam teritorial aqidah islam. pada babak awal pembentukan Dinasti Umayyah, muncul sebuah pemikiran yang di kemudian hari, di kenal dengan istilah Jabariyyah (fatalisme). Aliran ini, berfaham tidak ada ikhtiar bagi manusia. Bagi jabariyyah, manusia ibarat sehelai rambut yang di terbangkan oleh angin, kemanapun dan sampai kapan pun.
            Demi mengukuhkan, kekuasaan nya Muawwiyyah kemudian memunculkan sebuah argument, bahwa apa yang terjadi antara dia dengan imam Ali bin aby tholib, merupakan kehendak Allah SWT yang harus terjadi dan kami tidak punya kekuatan untuk menghindarinya karena kita hanya menjalankan kehendak Allah SWT. Titik inilah yang kemudian menjadi cirri khas pemikiran para raja dalam islam. kita bisa lihat, ketika dinasti umayyah runtuh dan muncul dinasti Abbasiyyah, pun juga di tandai dengan konsep jabariyyah di awal gerakan membangun pengaruh terhadap ummat islam.  konsep Jabariyyah di tuduh sebagai biang kerok kemunduran Islam. karena dengan memakai pemahaman jabariyyah seseorang tidak akan mau berusaha karena apapun usahanya semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan.
Dengan harapan perubahan Ummat, Mu'tazilah pun lahir dengan mengusung pemahaman "taqdir" adalah hasil upaya manusia sendiri. Karena tuhan itu adil maka tidak mungkin Dia menjadikan manusia jahat lalu kemudian menghukumnya. Kejahatan manusia adalah upaya manusia sendiri hingga ia pantas untuk di hukum. Pandangan Mu'tazilah ini mendapat kecaman dan penolakan dari kelompok Asy'ariyah dengan menawarkan jalan tengah. Sehingga seorang Asy'ariyah akan menjadi Mu'tazilah di saat dia berupaya melakukan sesuatu dan mengambil posisi Jabariyah ketika mendapatkan hasil usahanya. Dalam manuvernya Mu'tazilah cukup berjasa bagi kemajuan ummat Islam. karena dengan faham yang di yakininya seorang Mu'tazilah akan berusaha melakukan yang terbaik demi kepentingannya di dunia dan di akhirat. Pujian serupa juga sempat keluar dari seorang imam Asy'ari dengan mengatakan bahwa Mu'tazilah telah berjasa pada agama Islam karena telah menyelamatkan pemikiran Islam dari rong – rongan pilsapat yunani.
Kitab Al-Asma'u Wa Al-Ashifatu merupakan terobosan dari seorang Ulama' yang meninggalkan kita di tahun 458 H, dalam rangka reboisasi kembali wacana teologi Islam. Berangkat dari sebuah keprihatinan Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi terhadap tingginya diagram wacana Bid'ah yang bermunculan di tengah gulatan pemikiran keislaman saat ini. Di tambah munculnya sejumlah aliran, madzhab, sekte dan firqoh yang menjadikan teologi sebagai batu loncatan wacana di tengah kampung pemikiran Islam.
            Dua alasan tersebut, menjadi titik simpul pemikiran Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi dalam kitab ini. Sehingga dengan tegas beliau menyatakan : "kitab nama-nama Allah Jalla Tsana'uh dan sifat-sifat – Nya, yang berangkat melalui legalitas Al-Qur'an atas kebenarannya atau legalitas Sunnah Rasulullah SAW atau legalitas Ijma' Salaf ummat ini, sebelum munculnya firqoh (seperti : muktazilah, jabariyyah dan lain-lain) dan maraknya wacana Bid'ah di tengah peradaban keilmuan Islam".
            Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi menabuh Bedug argumentasinya dalam kitab ini, dengan Bab 'Adad Al-Asama' Al-Laty Akhbarha Al-Nabi Saw Anna Man Ahshoha Dakhala Al-Jannah. Pada pembahasan ini, Al-Imam Al-Hafizh Abi Bakar Ahmad Bin Husen Bin Ali Al-Baihaqi mengangkat ungkapan Rasulullah dari Abi Hurairoh, Rasulullah bersabda : "sesungguhnya bagi Allah Sembilan puluh Sembilan nama, seratus selain satu. Barang siapa menghapalnya masuk syurga dan dia maha ganjil serta mencintai yang ganjil". Di sisi lain kitab yang kita bahas ini, menawarkan wacana "Allah Tertawa". Sepintas tawaran Imam Al-Baihaqi ini sangat berbahaya, tetapi luasnya pengetahuan sang imam, mampu menguraikannya di atas bangunan fakta dan data bukan berdasarkan sentimentil tanpa dasar.
            Tegasnya kitab Al-Asma'u Wa Al-Ashifatu sangat tepat untuk di koleksi oleh kalangan intelektual lokal maupun intelektual metropolitan. Bagi peresensi kitab ini, sangat tepat untuk di sebut "Bank Data Naqli Untuk Problem Teologi

0 komentar:

Poskan Komentar