Pages

Minggu, 12 Mei 2013

BAHASA ARAB YAMAN KUNO


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kata ‘Semit’ merupakan kata yang diambil dari nama seorang putra Nabi Nuh as. yaitu Sam. Dengan demikian Bahasa semit merupakan bahasa yang digunakan oleh suatu bangsa dari keturunan Sam dan cabang-cabangnya yang nasabnya juga berasal darinya pula. Terdapat beberapa bagian dari bahasa semit, antara lain: bahasa Akkadia, Aramiya, Kan’an, Yaman Kuno, Etiopia (Habasyah), dan Arabiyah.
Akan tetapi pada paper ini, kami tidak menjelaskan secara rinci dari masing-masing bagian tersebut. Hanya saja kami mencoba mengupas satu bagian saja, yaitu tentang Bahasa Yaman Kuno. Berhubung sangat minimnya rujukan terkait pembahasan tersebut, kami tidak membahas secara global dan detil, di paper ini hanya mencoba memaparkan sebagian kecil dari garis besarnya semata. Besar harapan, semoga paper singkat ini bias menambah wawasan kita semua, khususnya bahasa yaman kuno.
B. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup Paper ini adalah mencoba membahas seputar bahasa Yaman Kuno, dari segi pertumbuhan dan kedudukannay di antara bahasa-bahasa Semit, periode dan pembagian bahasa yaman,  akhir dari bahasa-bahasa Yaman dan tentang Tulisan Yaman.

C. MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN
Maksud dan tujuan penulisan paper ini adalah untuk memenuhi Tugas Akhir semester mata kuliah Fiqh al-Lughah, yang diampu oleh Drs. Zaini Hisyam, M.A.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan Dan Kedudukannya Di Antara Bahasa-Bahasa Semit
            Di negeri Yaman, orang-orang Semit membangun sebuah Negara. Merekalah bangsa kuno yang telah berhasil menciptakan satu kebudayaan dan peradaban yang sangat besar. Dan di Yaman inilah orang-orang Semit menemukan sebuah pemukiman besar nan subur dan terkemuka. Begitu juga dengan rakyat-rakyatnya yang bias dikatakan tergolong kaya raya dan pengusaha di dunia perniagaan.
            Kesuksesan yang mereka raih dalam usaha perniagaannya, mampu melambung ke India dankei sekitar teluk Persi. Bahkan dengan usaha mereka itu pula mampu menembus ke daerah Hijaz dan negeri Syam.
            Rumpun bahasa semit, banyak ditemukan oleh para pakar di daerah Yaman, Hijaz bagian Utara dan juga di Syiria. Danyang menjadi salah satu buktinya adalah adanya goresan-goresan pada bebatuan tertulis di kuburan-kuburan, beberapa tempat ibadah, mata uang dan lain sebagainya. Dari semua tulisan-tulisan itulah, para ahli mencoba menganalisis dan mencoba membandingkan dengan bahasa-bahasa Semit lainnya. Hingga pada puncaknya mereka bisa mengetahui persamaan sekaligus perbedaannya (meskipun hasil dari analisa mereka bisa dikatakan belum sempurna, hanya saja mereka mencoba menafsirkan secara garis besar dan berdasarkan konteks semata). Dan juga tidak sedikit yang belum berhasil mereka ungkap dari peninggalan-peninggalan tertulis lainnya, seperti beberapa tulisan yang mengistilahkan agama dan bangunan pada masanya.
            Dari sini kita sudah dapat mengetahui bahwa Bahasa itulah yang disebut dengan bahasa Yaman kuno atau bahasa arab bagian selatan. Dan di dalamnya terdapat beberapa dialek yang sangat kesohor, seperti dalek Sabaiyah, Himyariyah dan Qahthaniyah.


B.     Periode Dan Pembagiannya
      Terkait dengan dialek-dialek bahasa Yaman kuno, terdapat bermacam-macam bentuk sesuai dengan cara pengucapannya. Dialek bahasa Yaman Kuno secara garis besar terbagi atas empat macam. Pertama Sabaiyah, kedua hadlramiyah, ketiga ma’iniyah, dan yang yang keempat adalah Qutbaniyah. Pembagian dialek-dialek ini berdasarkan pada negara-negara yang tren pada masa itu.
·         Dialek Ma’iniyah ( اللهجة المعينية)
Dialek ini merupakan lahir dari bahasa penduduk Ma’in itu sendiri dimana mereka mampu membangun kerajaan di negeri Arab, yaitu kerajaan Qarna (Qarnana), yang mana kerajaan ini merupakan kerajaan tertua. Kerajaan tersebut diperkirakan berdiri pada abad ke-8 SM.
            Salah satu kejayaan yang dicapai kerajaan tersebut yaitu berhasilnya menguasai perniagaan antara India dan beberapa negeri-negeri Arab. Bahkan pengaruh di bidang politik dan ekonominya mulai merambat dari beberpa pantai samudera Hindia menuju ke daerah bagian utara Negara kan’an hingga pada Laut Merah.
·         Dialek Sabaiyah ( اللهجة السبئية )
Dialek Saba menyebar di daerah Yaman bagian barat dan utara, dan dialek ini dinisbatkan pada kaum Saba yang mana merekalah yang telah meruntuhkan rezim kaum Ma’ien. Kemudian mereka membangun kekuasaan di atas reruntuhan kekuasaan Ma’ien yang memiliki  peran besar dalam sejarah kuno, yaitu kerajaan Saba yang mana kota Ma’rab sebagai Ibu kotanya.  Sehingga mereka berhasil membangun sebuah kebudayaan yang amat luar biasa, yang mana dalam catatan sejarah menyatakan bahwa kepesatan kebuadayaan tersebut berhasil menundukkan beberapa daerah yang ada di sekitarnya. Dengan demikian dialek Saba ini mampu mempengaruhi dialek-dialek yang terdapat di kota Yaman lainnya, dan tetap bertahan meskipun Bangsa Habsyi mampu mengalahkan dan memegang kendali pemerintahan yang terjadi sekitar tahun 375 M.
·         Dialek Himyariyah ( اللهجة الحميرية )
Dialek ini lahir ketika orang-orang Himyar berhasil mengusir bangsa Habsyi dari tanah Yaman sekitar pada tahun 1400 M. Sementara sebelum pengusiran bangsa Habsyi itu terjadi, mereka telah terlibat perseteruan sengit dengan negeri Saba. Pertengkaran antara dua golongan tersebut kira-kira terjadi seperempat abad setelah jatuhnya Saba. Dengan kemenangannya, mereka berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang pada akhirnya dari kerajaan tersebut akan memunculkan sebuah dialek baru, yaitu dialek Himyar yang dengan perlahan mampu mempengaruhi bahkan mengalahkan dialek-dialek lainnya.
·         Dialek Qutbaniyyah ( اللهجة القنبانيّة )
Dialek Qutbaniyyah adalah dialek yang lahir dari marga Qathban yang mana marga tersebut, dengan kekuatannya mampu mendirikan sebuah kerajaan yang bertempat di daerah pantai sebelah utara kota Aden. Akan tetapi sekitar pada abad ke 2 SM negeri ini terlibat peperangan dengan orang Saba, yang pada akhirnya Qathban kalah.
·         Dialek Hadhromiyyah ( اللهجة الحضرميّة )
Dialek Hadhromiyyah adalah dialeknya penduduk dari kabilah Khadro Maut yang tumbuh di wilayah salatan yang kemudian dinamai dengan nama Hadharah Zahirah. Akan tetapi terjadi berperangan melawan Saba, yang pada akhirnya kerajaan Hadhram ini mengalami kehancuran oleh kekuatan Saba.
C.    Puncak/Akhir Bahasa-Bahasa Yaman
Negeri Yaman merupakan salah satu negeri yang sangat pesat dengan kegiatan-kegiatan kesenian yang berbau sastra dan bersyair. Di negeri inilah sastra bahasa Arab membumi dan menjadi sebuah kegiatan rutinitas tahunan. Hal ini terjadi karena sastra Arab mengalami kemajuan yang sangat pesat yang tiada lain factor utamanya adalah kelebihan-kelebihan yang ada pada bahasa Arab itu sendiri, meskipun tidak sedikit terdapat kesamaan antara kedua bahasa tersebut. Sejalan dengan perkembangannya yang pesat, bahasa Arab mampu mengalahkan bahasa Yaman, disusul dengan datangnya agama Islam yang mana kehadirannya justru semakin mengokohkannya, sehingga dengan perlahan bahasa Arab mampu melenyapkan sisa-sisa dialek yang masih mengalami pebedaan. Masuknya bahasa Arab di tengah-tengah bahasa Yaman, yaitu berawal dari peperangan antara Yaman dengan para penakluk Persi maupun Habsyi. Dari situlah bangsa-bangsa tetangga yang masi sedarah mulai masuk ke Yaman dan membantunya. Seperti bangsa Adnaniyah, yang merupakan bangsa tetangga yang menetap di Yaman ditambah lagi dengan bangsa-bangsa pendatang lainnya.
Berangkat dari fenomena inilah sedikit demi sedikit penduduk Yaman mulai mengenal dan memakai bahasa Arab, yang pada akhirnya terjadi percampuran bahasa antara bahasa Arab dan dialek Yaman. Seiring dengan berjalannya waktu, bercampurnya bangsa-bangsa tersebut, membuat orang-orang Yaman dengan perlahan mulai meninggalkan bahasa mereka, dengan kata lain bahasa yang mereka gunakan bukanlah bahasa asli dari Yaman, akan tetapi menggunkan bahasa yang telah mengalami percampuran dengan bahasa yang menyimpang dari tatanan aslinya, baik dari segi tilisan maupun pengucapannya. Berangkat dari ketinggian bahasa Arab yang kemudian bergeser pada tingkatan bahasa sastra, bahasa tulis-menulis, bahasa puisi dan bahsa pidato.

D.    Tulisan Yaman
Tulisan Yaman dikenal dengan tulisan Masnad. Penamaan tersebut lahir karena pada huruf-hurufnya memiliki kesamaan dengan tiang-tiang. Lain dari itu, tulisan Yaman diambil dari Kan’aniyah sehingga kesamaan antara kedua tulisan tersebut sangatlah tampak. Hanya saja gaya penulisan masnad bisa dikatakan lebih indah daripada gaya tulisan Kan’aniyah. Baik dari segi rangkaiannya, bentuk dan susunan arsitekturnya yang terdapat pada huruf-hurufnya.
Cara penulisan tulisan Yaman ialah ditulis dalam bentuk horizontal, yakni dari kanan ke kiri. Akan tetapi terkadang penulisannya seperti gerakan-gerakan ular, yakni mulai dari kanan ke kiri, dan dari kiri ke kenan pada baris berikutnya. Tulisan Masnad ini terdiri dari duapuluh enam huruf, akan tetapi pada tulisan masnad ini tidak ditemuakan adanya huruf panjang (mad) dan tanpa syakal seperti bentuk tulisan yang lainnya. Di sinilah letak kesulitan tulisan Masnad atau membaca bahasa Yaman Kuno, karena bisa jadi akan mengalami banyak kekabuaran dan kemungkinan-kemungkinan dalam bacaannya

DAFTAR PUSTAKA

Shalih, Subhi, Dirasah fi Figh al-‘Arobiyyah, Beirut: 1962.

Wafi, Ali Abdul Wahid, Fiqh al-Lughah, Beirut.

0 komentar:

Poskan Komentar