Pages

Kamis, 02 Mei 2013

"FUTUR" fase menurunnya iman


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul "Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid".
Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabiin –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh,
أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
"Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam duduk?"
Jabir menjawab,
نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ.
"Iya. Beliau shallallahu alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu alaihi wa sallam hanya tersenyum saja." (HR. Muslim no. 670)
An Nawawi mengatakan, "Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al Qadhi Husain mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdoa hingga terbit matahari." (Syarh An Nawawi ala Muslim, 8/29, Asy Syamilah)
Membaca Dzikir Pagi Menjadi Kebiasaan Ibnu Masud radhiyallahu anhu
Dari Abu Wail, dia berkata, "Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Masud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sembari berkata, "Mari silakan masuk." Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Masud sedang duduk sambil berdzikir.
Ibnu Masud lantas berkata, "Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?"
Lalu kami menjawab, "Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur."
Ibnu Masud lantas bekata, "Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?"
Kemudian Ibnu Masud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, "Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit." Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sembari berkata, "Lihatlah apakah matahari telah terbit." Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا
"Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini." (HR. Muslim no. 822)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Menjadi Malas Beraktivitas Disebabkan Lupa Dzikir Pagi
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang gemar beribadah dan bukanlah orang yang kelihatan bengis sebagaimana anggapan sebagian orang. Kita dapat melihat aktivitas beliau di pagi hari sebagaimana dikisahkan oleh muridnya –Ibnu Qayyim Al Jauziyah.-
Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan,
"Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Taala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku –atau perkataan beliau yang semisal ini-." (Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib, hal.63, Maktabah Syamilah)
Di Antara Dzikir Pagi yang Ringan yang Bisa Rutin Dibaca

[1] Membaca istigfar sebanyak 100x: Astagfirullah wa atubu ilaih
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ
"Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari, pen) kecuali aku telah beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali." (HR. An Nasai. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 1600. Lihat Al Mujam Al Awsath lith Thobroniy, 8/432, Asy Syamilah)
[2] Membaca sayyidul istighfar 1x
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Penghulu istighfar adalah apabila engkau mengucapkan,
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
[Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtaniy wa ana 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatho'tu. A'udzu bika min syarri maa shona'tu, abu-u laka bi ni'matika 'alayya wa abu-u bi dzanbi. Faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta] "Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau." (HR. Bukhari no. 6306)
[3] Membaca surat Al Ikhlash, Al Falaq, dan An Naas masing-masing sebanyak 3x
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
« (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »
"Membaca Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Al Muwaidzatain (surat Al Falaq dan An Naas) ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali akan mencukupkanmu dari segala sesuatu)." (HR. Abu Daud no. 5082. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dhoif Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Jika ingin mengetahui dan mengamalkan dzikir-dzikir pagi lainnya, silakan dilihat di kitab Hisnul Muslim (karya Syaikh Said bin Wahf Al Qohthoni hafizhohullah, sudah banyak diterjemahkan) atau buku Doa dan Dzikir karya Al Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawas hafizhohullah.
Semoga Allah menjadikan waktu pagi kita menjadi waktu yang penuh berkah. Semoga Allah memudahkan kita melakukan amalan yang bermanfaat di dalamnya
Siapa yang tidak pernah mengalami futur ?
Suatu fase turunnya ghirah keimanan dan ketaatan. Malas ta'lim, malas membaca alquran, malas berdzikir, malas membaca buku agama, dan pasti berakibat dengan malas-malas yg lain. Sungguh beruntung orang yg bisa melewati fase ini dengan baik, dia bisa bangkit dari ke futuran dan kembali menemukan ghirahnya dalam beribadah. Namun sungguhlah merugi orang yg tidak berhasil menemukan kembali ghirah ketaatannya, bahkan sampai menjerumuskan dia pada jurang kemalasan dan kelalaian.

Saya teringat hari-hari dikala futur berat menyerang. Astaghfirullah, entah kenapa sungguh sampai bs jatuh ke titik hampir nol, kehilangan semangat ta'lim, membaca alquran rasanya malas, jangankan membaca menyentuhnya saja jarang, tahajjud dan dhuha lewat begitu saja, tanpa adanya sesal, Buku-buku rohani tidaklah tersentuh sama sekali, berbulan-bulan tidak berhasil bangkit . Hati bimbang dan bingung, meskipun setiap minggu masih rajin ta'lim, tapi tidak merasuk sama sekali dihati, rajin sholat namun tidak merasuk ke jiwa, semua menguap begitu saja. Rabbi. sungguh setan telah berhasil mengelabuhi hati dan pikiran, hari-hari di isi dengan kegiatan yg tiada bermakna, sungguh berapa banyak waktu tersia-sia begitu saja, browsing internet sepanjang waktu, nonton film, nonton televisi, hiduppun terasa datar tanpa tujuan. "ayo buka mushafmu, baca dzikir pagi & sore, tambah hafalanmu, selesaikan baca buku-buku yg terlantar itu"  beraneka ragam bisikan mulia dari hati terdalam itu seakan berat untuk dijalankan. Robbi Inni Dzolamtu Nafsi  Faghfirli

Lalu apa yg aku lakukan? Aku tidalah berusaha melakukan apa-apa untuk mengembalikan semangatku. Sampai suatu ketika Allah menegurku, dengan teguran begitu kuat dan dahsyat, Dia memberikan kebahagiaan yg sungguh berarti justru pada saat futur melanda, membuatku takut apakah Dia dalam keadaan murka ketika mengabulkan semua doa-doaku, menyadarkanku betapa aku sungguh telah berbuat dzalim kepada Nya, dan terhadap diriku sendiri, mengingatkanku betapa sesungguhnya aku membutuhkan Dia sepenuh jiwa, Sang maha pengatur kehidupan, Sang pembimbing hati. Sang penentu takdir manusia. La haula wala quwata illa billah

0 komentar:

Poskan Komentar